Menteri Israel Tolak Gencatan Senjata, Sebut Seluruh Lebanon Harus Jadi Target

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir. (Anadolu Agency)

Menteri Israel Tolak Gencatan Senjata, Sebut Seluruh Lebanon Harus Jadi Target

Muhammad Reyhansyah • 23 June 2026 16:50

Tel Aviv: Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyerukan penolakan terhadap setiap upaya gencatan senjata di Lebanon dan menyatakan seluruh wilayah negara itu harus menjadi target operasi Israel.

“Seluruh Lebanon harus menjadi target kami. Israel tidak bisa menyetujui gencatan senjata di Lebanon,” kata Ben-Gvir kepada penyiar publik Israel KAN pada Senin, 22 Juni 2026.

Mengutip Press TV, Ben-Gvir juga menolak pembedaan antara Lebanon dan Hizbullah. “Saya tidak menerima pendekatan artifisial itu,” ujarnya.

Ia mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menyampaikan secara langsung kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Israel menolak gencatan senjata di Lebanon.

“Trump adalah sahabat sejati, dan kita harus memperlakukannya dengan baik serta merangkulnya, tetapi kita perlu mengatakan kepadanya bahwa kita tidak bisa menyetujui gencatan senjata di Lebanon,” kata Ben-Gvir.

Menurut dia, keputusan terkait operasi militer tetap berada di tangan Israel.

“Kitalah yang membuat keputusan, dan ada hasil yang baik bagi para prajurit kita,” tambahnya.

Sebelumnya, Ben-Gvir juga menulis di media sosial X bahwa “seluruh Lebanon harus terbakar” serta menyatakan bahwa untuk setiap air mata ibu warga Israel, seribu ibu Lebanon harus menangis.

Pernyataan tersebut menuai kecaman, termasuk dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang pada Jumat menuduh para pejabat senior Israel sengaja mendorong eskalasi konflik di Lebanon.

Araghchi mengatakan kepentingan utama pemerintah Israel adalah mempertahankan perang secara permanen.

Muncul di Tengah Perdebatan soal MoU

Sikap keras Ben-Gvir muncul ketika perdebatan mengenai nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran terus berkembang di Israel.

Sejumlah pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon merupakan salah satu komponen utama kesepakatan yang ditandatangani Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Trump pekan lalu.

Menurut data otoritas Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret telah menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya.

Israel juga masih mempertahankan kehadiran militernya di sejumlah wilayah Lebanon selatan, termasuk kawasan yang telah diduduki selama puluhan tahun maupun wilayah yang direbut dalam konflik 2023–2024.

Baca juga:  Israel-Lebanon Mulai Perundingan Awal soal Penarikan Pasukan

(Willy Haryono)