Program coaching Guru Berdaya, Guru Bahagia membantu guru memperkuat mental dan mengembangkan pendekatan baru dalam mendidik Gen Z. (Metrotvnews.com / Dimas Chairullah)
Program Coaching 'Guru Berdaya' Dorong Guru Adaptif Hadapi Gen Z di Era Digital
Dimas Chairullah • 11 April 2026 15:04
Jakarta: Rangkaian talkshow dan sesi one-on-one coaching bertajuk “Guru Berdaya, Guru Bahagia” memberikan ruang refleksi sekaligus wawasan baru bagi para guru, terutama dalam menghadapi tantangan mendidik Generasi Z (Gen Z) di era media sosial.
Sejumlah peserta mengaku mendapatkan penguatan mental untuk menghadapi karakter siswa yang sangat dipengaruhi oleh gawai dan konten digital.
Fini Afini Su’ud, guru SMPN 4 Kota Serang, mengatakan tantangan terbesar saat ini adalah membentuk karakter siswa di tengah dominasi media sosial.
"Akhlak tidak bisa dibentuk dari media sosial. Perlu teladan dari guru, sementara yang mereka dengar setiap hari justru dari internet," ujarnya.
Ia mengaku kerap menemukan siswa yang tanpa sadar meniru bahasa kasar dari konten digital. Namun, melalui coaching, ia menyadari pentingnya pendekatan komunikasi dua arah.
"Solusi harus datang dari kesadaran mereka sendiri, bukan hanya dari guru," tambahnya.
Ubah Stigma terhadap Gen Z
Peserta lain, Vonny Dewiyanti, menilai guru kerap memiliki stigma negatif terhadap Gen Z, seperti dianggap kurang hormat atau terlalu santai.Melalui kegiatan ini, ia terdorong untuk mengubah perspektif tersebut dengan pendekatan yang lebih empatik. Vonny membagikan prinsip "ATP" dalam menghadapi siswa, yakni Amati, Temani, dan Beri Kepercayaan.
"Kita perlu memahami kecenderungan mereka, menjadi teman, dan memberi kepercayaan agar mereka berkembang," jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kebahagiaan guru sebagai fondasi dalam mendidik.
"Kalau kita tidak punya kebahagiaan, kita tidak bisa memberikannya kepada siswa," ujarnya.
Sementara itu, Sri Rahayu menilai guru perlu memiliki ketahanan emosional agar tidak mudah terbawa perasaan dalam menghadapi siswa dengan latar belakang beragam.
"Kita harus memahami karakter anak didik agar tidak mudah baper," katanya. Sri menegaskan bahwa kebahagiaan dan kesabaran guru menjadi kunci dalam membentuk generasi masa depan.
"Di depan kita ada generasi yang harus disiapkan untuk Indonesia Emas," pungkasnya.
Baca juga: 'Guru Berdaya, Guru Bahagia' Soroti Peran Guru sebagai Pendidik Karakter