'Guru Berdaya, Guru Bahagia' Soroti Peran Guru sebagai Pendidik Karakter

Program pemberdayaan bertajuk Guru Berdaya - Guru Bahagia berlangsung di Wuffy Space, Bintaro, Sabtu, 11 April 2026. (Metrotvnews.com / Dimas Chairullah)

'Guru Berdaya, Guru Bahagia' Soroti Peran Guru sebagai Pendidik Karakter

Dimas Chairullah • 11 April 2026 12:56

Jakarta: Menyambut peringatan Hari Kartini, Coachnesia Top 40 dari Vanaya Institute menggelar program pemberdayaan bertajuk “Guru Berdaya, Guru Bahagia” di Wuffy Space, Bintaro, Sabtu, 11 April 2026.

Kegiatan ini menyoroti pentingnya peran guru sebagai pendidik karakter, bukan sekadar pengajar.

CEO Vanaya Institute, Lyra Puspa, menekankan bahwa profesi guru tidak boleh direduksi menjadi sekadar transfer ilmu. "Guru itu pendidik, bukan hanya mengajar. Guru harus menjadi mentor dan role model," ujarnya di hadapan peserta.

Ketua Coachnesia Top 40, Banto Twiseno, menambahkan bahwa kompleksitas tuntutan profesi saat ini membuat banyak guru rentan mengalami tekanan, mulai dari beban administratif hingga ekspektasi orang tua.

"Sering kali ruang untuk refleksi diri menjadi sangat terbatas," kata Banto.

Program ini secara khusus menyasar guru perempuan sebagai bagian dari semangat emansipasi Hari Kartini.

"Kami ingin memberdayakan guru perempuan agar sejalan dengan cita-cita Ibu Kartini. Guru yang berdaya dan bahagia akan mampu memberikan yang terbaik bagi anak didiknya," ujarnya.

Bahas Kesehatan Mental Guru

Acara juga menghadirkan sesi talkshow bertajuk “The Flourishing Teacher – Tetap Bertumbuh, Tetap Bermakna” yang dipandu oleh Valentinus Resa, dengan narasumber psikolog Ummi Kulsum Irawan.

Dalam pemaparannya, Ummi menekankan bahwa kesejahteraan mental guru tidak berarti bebas dari masalah.

"Flourishing teacher bukan berarti tidak pernah lelah atau tidak punya masalah, tetapi tetap memiliki energi, makna, dan koneksi dengan diri sendiri serta orang lain," jelasnya.

Menurutnya, guru yang berdaya adalah mereka yang tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bertumbuh dan menemukan makna dalam perannya.

Sebagai bagian dari pendampingan, sekitar 30 guru perempuan tingkat SD dan SMP mengikuti sesi one-on-one coaching.

Melalui sesi ini, peserta diajak mengurai beban mental dan tantangan profesional, sekaligus memperkuat kesiapan emosional dalam mendampingi siswa, terutama yang berada pada fase transisi menuju remaja.

Baca juga:  Sambut Hari Kartini, 'Guru Berdaya, Guru Bahagia' Soroti Kesehatan Mental Guru

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)