Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni. Dok. Tangkapan Layar
Kemenkes: WNA Kontak Erat Pasien Hantavirus di Jakarta Dinyatakan Negatif
Achmad Zulfikar Fazli • 11 May 2026 15:55
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan warga negara asing (WNA) yang tinggal di Indonesia dan berkontak erat dengan penumpang terjangkit virus Hanta atau Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius telah menjalani pemeriksaan. Hasilnya negatif terpapar Hantavirus.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyampaikan sekitar pukul 21.55 WIB, pada 7 Mei 2026, Indonesia menerima notifikasi dari International Health Regulation (IHR) National Focal Point (NFP) yang menyatakan seorang WNA laki-laki berinisial KE, 60, yang berdomisili di Jakarta Pusat berkontak erat dengan korban.
"Ia merupakan kontak erat dari kasus kedua (perempuan 69 tahun, meninggal) dan sempat satu penerbangan dari Saint Helena ke Johannesburg. Kondisi KE tidak bergejala, tetapi memiliki komorbid hipertensi yang tidak terkontrol dan riwayat vaping (rokok elektrik). Namun berdasarkan hasil laboratorium, pasien dinyatakan negatif Hantavirus," kata Andi dalam konferensi pers secara daring yang diikuti di Jakarta, dilansir dari Antara, Senin, 11 Mei 2026.
Andi menegaskan pemantauan pasien tetap dilakukan secara ketat dan pasien masih berada di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.
Dia menambahkan Kemenkes telah merespons cepat kasus pada pukul 10.00 WIB, 8 Mei 2026, dan langsung menyelidiki epidemiologi, pelacakan riwayat perjalanan, hingga pemeriksaan kesehatan.
"Dalam waktu kurang dari 24 jam sejak notifikasi, investigasi sudah dilakukan. Kondisi pasien sehat dan tidak ada gejala yang mengkhawatirkan, pengamatan terus dilakukan agar pasien bisa kembali ke kediamannya untuk pencegahan lebih lanjut," ucap Andi.

Ilustrasi tikus penyebab hantavirus. Foto: Shutterstock
Baca Juga:
Kemenkes Identifikasi WNA Kontak Erat Hantavirus MV Hondius di Jakarta |
Dia menegaskan petugas di Puskesmas Kecamatan Senen akan memantau secara berkelanjutan terkait pasien yang berkontak erat tersebut.
"Sesuai ketentuan isolasi kontak erat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), harus dilakukan karantina dan monitoring aktif setiap hari, sebaiknya kontak erat bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) dan melaporkan ke petugas kesehatan jika ada gejala," tutur Andi.
Andi meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan. Sebab, dalam klaster global berdasarkan laporan WHO, tiga orang meninggal dari kasus di kapal pesiar tersebut, dengan tingkat fatalitas atau case fatality rate 37,5 persen.
Kasus penularan Hantavirus bermula dari klaster penyakit pernapasan akut di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar lintas Atlantik dan Afrika. Virus yang teridentifikasi adalah Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) dari strain Andes, yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan dapat menular melalui paparan rodensia.
Namun, Indonesia belum pernah melaporkan kasus HPS dan hanya mencatat infeksi Hantavirus tipe Haemorhaggic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dalam jumlah terbatas sejak 1991. Kemenkes juga menyatakan di Indonesia belum ada kasus penularan dari tikus ke manusia.