Ilustrasi Pexels
Potensi Terjadi El Nino 70%, Simak Wilayah Terdampak
Muhamad Marup • 5 May 2026 18:08
Jakarta: Akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Kuswaji Dwi Priyono, mengatakan, potensi terjadinya El Nino pada tahun 2026 ini yaitu 70%. El Nino sendiri merupakan fenomena cuaca yang menyebabkan musim kemarau berlangsung panjang dan kering.
"Pada tahun 2026 terdapat peluang sekitar 70 persen terjadinya El Nino. Fenomena ini diperkirakan mulai berkembang pada pertengahan tahun," ujar Kuswaji, dalam keterangan resminya, Selasa, 5 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa saat ini Indonesia masih berada dalam masa pancaroba. Peralihan dari angin muson barat ke muson timur menyebabkan cuaca tidak menentu.
"Hal ini menjadi bagian dari dinamika iklim yang normal terjadi setiap tahun," jelasnya.
Wilayah terdampak
Kuswaji menjelaskan, dampaknya dapat berlangsung hingga akhir tahun dengan intensitas yang belum bisa dipastikan. Dampak utama dari El Nino kuat adalah meningkatnya suhu udara dan berkurangnya curah hujan."Kondisi ini berpotensi memicu kemarau panjang di berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, musim kemarau yang biasanya berakhir pada Oktober bisa bergeser hingga Desember,” paparnya.
Ia juga menekankan bahwa wilayah Indonesia Timur memiliki risiko lebih besar terdampak El Nino. Secara geografis, wilayah tersebut lebih dekat dengan Samudera Pasifik.
"Akibatnya, intensitas panas dan kekeringan bisa lebih ekstrem dibanding wilayah lain," ucapnya.
Kelompok rentan

Ilustrasi kekeringan. Foto MGN.
Kuswaji mengungkapkan, selain kekeringan, dampak lain yang perlu diwaspadai adalah penurunan produksi pertanian. Kekurangan air akan memengaruhi produktivitas padi dan komoditas lainnya.
"Hal ini dapat berdampak pada ketahanan pangan nasional," ucapnya.
Kuswaji juga mengingatkan adanya potensi gelombang panas. Suhu yang meningkat dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.
"Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia menjadi pihak yang paling berisiko," tuturnya.
Kuswaji mengajak masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada. Ia menekankan pentingnya upaya mitigasi seperti penghijauan dan konservasi air.
"Salah satunya melalui pembuatan biopori dan penyerapan air hujan ke dalam tanah," ucapnya.