Pesona Monas, Magnet Liburan yang Tak Pernah Pudar di Ibu Kota

Monumen Nasional (Monas). Foto: Metro TV/Muhammad Alvi Randa.

Pesona Monas, Magnet Liburan yang Tak Pernah Pudar di Ibu Kota

Muhammad Alvi Randa • 28 May 2026 17:49

Jakarta: Sisa riuh rendah libur Iduladha masih menyisakan kehangatan di jantung Ibu Kota. Di bawah langit Jakarta yang beranjak terik, Monumen Nasional (Monas) berdiri megah, mengukuhkan dirinya sebagai ruang publik yang melintasi batas generasi dan negara, menyatukan tawa anak-anak hingga gurat bahagia para lansia.

"Ini baru pertama saya datang karena ingin lihat langsung puncak Monas," ungkap Amri, 68, salah satu pengunjung sepuh saat berbincang dengan Metrotvnews.com di pelataran Monas, Jakarta, Kamis, 28 Mei 2026.
 


Amri tidak datang sendiri. Bersama istrinya, Dias, 69, pasangan kakek-nenek ini rela menempuh perjalanan jauh dari Jawa Tengah demi memanjakan cucu-cucu mereka yang sedang menikmati masa libur sekolah. Monas menjadi tujuan utama, sebuah tempat yang selama ini hanya bisa mereka saksikan melalui layar kaca.

"Kami sebenarnya dari Semarang lalu mampir ke rumah anak di Bogor mumpung cucu-cucu sedang libur sekolah," ucap dia

Langkah kaki Amri dan keluarga kecilnya adalah bagian dari detak antusiasme masyarakat yang seolah tidak ada habisnya. 

Daya tarik emas di pelataran puncak setinggi 132 meter itu memang selalu berhasil memancing rasa penasaran siapa saja. Berdiri di sana, memandang panorama pencakar langit Jakarta secara 360 derajat, memberikan sensasi tersendiri yang magis bagi para wisatawan domestik.


Pengunjung Monumen Nasional (Monas). Foto: Metro TV/Muhammad Alvi Randa.

Menariknya, sihir Monas tidak hanya memikat warga lokal. Di antara ratusan wajah yang berswafoto, terselip puluhan wisatawan mancanegara yang ikut mengagumi arsitektur mahakarya Presiden Soekarno tersebut. UPK Monas mendata sedikitnya ada 28 turis asing yang datang dari berbagai belahan dunia pagi ini.

Para pelancong internasional itu tercatat berasal dari Tiongkok, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, Belanda, Vietnam, hingga Norwegia. Kehadiran mereka seolah menegaskan bahwa Monas bukan sekadar ikon lokal, melainkan destinasi berkelas global yang ramah di kantong.

Hingga matahari meninggi, kawasan ruang terbuka publik ini terus berdenyut. Menawarkan wisata sejarah yang inklusif sekaligus sarana rekreasi yang merakyat, Monas konsisten membuktikan dirinya sebagai primadona pariwisata yang tak lekang oleh waktu bagi semua kalangan.

(Fachri Audhia Hafiez)