Petugas Taman Margasatwa Ragunan memberikan makanan kepada satwa Gorila. Metrotvnews.com/Rifda
Hapus Atraksi Satwa, Ragunan Fokus Edukasi Lewat Keeper Talk
Rifda Muthia Zahra • 28 May 2026 15:59
Jakarta: Pengelola Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta Selatan, menghapus seluruh bentuk atraksi hewan yang bersifat hiburan semata. Pihak pengelola kini fokus memaksimalkan program edukasi interaktif melalui metode keeper talk sekaligus memperketat regulasi larangan pemberian pakan oleh pengunjung demi keselamatan satwa.
"Atraksi atau show hewan sudah lama tidak ada di Ragunan. Adanya cuma feeding animals atau pemberian makan kepada satwa yang jadwalnya boleh dilihat oleh pengunjung, dan ini mengandung lebih banyak edukasinya," ujar humas Taman Margasatwa Ragunan, Wahyudi Bambang, kepada Metrotvnews.com, Kamis 28 Mei 2026.
Wahyudi menjelaskan perubahan ini dilakukan untuk mengubah pemikiran masyarakat dari semula menganggap kebun binatang sebagai tempat tontonan sirkus, menjadi ruang edukasi. Pengunjung diarahkan untuk menyaksikan momen pemberian makan (feeding time) yang dipandu langsung oleh petugas berpengalaman.
"Di liburan ini kita adakan keeper talk, jadi zoo keeper kami memberikan edukasi langsung kepada pengunjung yang menyaksikan pemberian makan satwa. Biasanya yang paling ramai itu di gorila, jerapah, dan burung pelikan," jelas Bambang.
%2C%20Jakarta%20Selatan%2C%20fokus%20kepada%20edukasi%20kepada%20pengunjung_%20Metrotvnews_com_Rifda.jpeg)
Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta Selatan, fokus kepada edukasi kepada pengunjung. Metrotvnews.com/Rifda
Baca Juga:
20 Ribu Pengunjung Diprediksi Kunjungi Ragunan di Libur Iduladha |
Melalui program Keeper Talk, para petugas zoo keeper akan membeberkan karakteristik, pola hidup, hingga status konservasi satwa tertentu secara langsung di hadapan publik. Sesi interaktif ini dijadwalkan secara berkala di beberapa perkandangan favorit, mulai dari burung pelikan, jerapah, hingga mamalia besar seperti gorila.
Sejalan dengan misi edukasi tersebut, manajemen Ragunan juga melarang keras keterlibatan pengunjung dalam memberi makanan kepada satwa.
“Kalau ingat-ingat zaman dulu kan ada pedagang yang jual kacang untuk dikasih ke hewan. Nah sekarang regulasinya tidak diperbolehkan karena membahayakan hewan. Petugas jadi tertib di situ," ungkap salah seorang pengunjung asal Jakarta, Nadia.
Pihak pengelola mengatakan pelarangan ini didasari oleh fakta mayoritas masyarakat tidak memiliki keahlian khusus dalam mengukur nutrisi dan keamanan pangan hewani. Selain berisiko merusak diet ketat satwa, tindakan melempar makanan secara sembarangan dinilai berbahaya dan berpotensi mengotori area kandang satwa.