Tinggalkan Sudan untuk Cari Selamat, 37 Pengungsi Malah Tewas di Laut

Kapal pembawa migran kerap hadapi kerasnya gelombang laut. Foto: Anadolu

Tinggalkan Sudan untuk Cari Selamat, 37 Pengungsi Malah Tewas di Laut

Fajar Nugraha • 28 August 2026 08:10

El-Fasher: Setidaknya 37 migran Sudan tewas dalam perjalanan laut dari Libya ke Yunani setelah melarikan diri dari perang di negara mereka.

Koordinasi Perlawanan El-Fasher, sebuah komite akar rumput, pada Kamis 26 Agustus 2026 menyatakan bahwa para korban termasuk perempuan, anak-anak, dan keluarga yang telah meninggalkan Sudan demi mencari keselamatan.

"Para perempuan dan anak-anak itu pergi mencari keselamatan namun justru menemui ajal di laut," bunyi pernyataan tersebut, seperti dikutip dari Anadolu, Jumat 28 Agustus 2026.

Ini menggambarkan insiden itu sebagai bagian dari tragedi lebih luas yang dihadapi warga sipil Sudan yang mengungsi akibat perang.

Disebutkan bahwa para korban berasal dari berbagai wilayah di Sudan, termasuk El Fasher, El Geneina, Nyala, Gedaref, East Nile, Babanusa, serta kota-kota lainnya.

Pernyataan tersebut mencantumkan nama-nama 37 korban yang telah beredar, termasuk beberapa anak-anak, di antaranya seorang bayi berusia 7 bulan serta anak-anak berusia 3, 6, 8, 9, 12, 13, dan 16 tahun.

El Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara, termasuk wilayah yang paling terdampak parah, dengan beberapa korban berasal dari kota tersebut, ungkap kelompok itu.

"Maut tidak menyisakan jalan yang aman bagi penduduk El Fasher. Maut membayangi mereka di dalam kota, di jalur pengungsian, di rute migrasi, bahkan di tengah laut," ujar kelompok Koordinasi Perlawanan El-Fasher.

Menurut lembaga-lembaga lokal dan internasional, RSF merebut kendali atas El Fasher pada 26 Oktober 2025, di tengah tuduhan pembantaian terhadap warga sipil dan peringatan bahwa perkembangan ini dapat memperparah fragmentasi geografis Sudan.

Sudan telah dilanda konflik sejak April 2023, ketika pertempuran pecah antara militer dan RSF terkait rencana integrasi pasukan paramiliter tersebut ke dalam angkatan bersenjata. Perang ini telah memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, menewaskan puluhan ribu orang dan menyebabkan hampir 13 juta orang mengungsi.

Jutaan warga Sudan terpaksa meninggalkan rumah mereka, banyak yang mencari perlindungan di negara-negara tetangga atau mencoba menempuh rute migrasi berbahaya melintasi Laut Mediterania.

(Fajar Nugraha)