BNPB Lapor ke Presiden Penanganan Kebakaran 458 Hektare Bukit Soeharto di IKN

Ratas Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran. Foto: BPMI Setpres

BNPB Lapor ke Presiden Penanganan Kebakaran 458 Hektare Bukit Soeharto di IKN

Kautsar Widya Prabowo • 7 September 2026 15:51

Jakarta: Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan kebakaran lahan seluas 458 hektare di kawasan Bukit Soeharto, Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Laporan tersebut disampaikan kepada Presiden Prabowo dalam rapat virtual, Senin, 7 September 2026.

"Yang pertama di IKN Kalimantan Timur, ada di kawasan IKN, di Bukit Soeharto ada 458 hektare. Ini sedang proses penanganan, kami pun bantu dengan satgas darat dan heli water bombing ke sana," kata Suharyanto dalam rapat tersebut.

Selain di kawasan IKN, kebakaran terjadi di sejumlah wilayah lain. Di Teluk Bintuni, Papua Barat, lahan yang terbakar mencapai 223,5 hektare dan sebagian besar relatif sudah padam.

Kebakaran juga terjadi di kawasan Gunung Butak, Jawa Timur, seluas 16,5 hektare. Sementara kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kota Solo, mencapai 4,6 hektare dan masih dalam proses pemadaman.
 


Menurut Suharyanto, penanganan kebakaran di TPA Putri Cempo cukup sulit. BNPB telah mengirimkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dan helikopter water bombing untuk membantu proses pemadaman di lokasi.


Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto. Foto: Tangkapan layar.

Kebakaran lainnya terjadi di kawasan Gunung Ijen, Jawa Timur, dengan luas sekitar 2,5 hektare. Secara keseluruhan, luas lahan yang terbakar di sejumlah lokasi tersebut mencapai 705,1 hektare.

Suharyanto mengatakan kebakaran di wilayah yang bukan merupakan lahan gambut relatif lebih mudah ditangani. Penanganan dapat dilakukan dengan mengerahkan satgas darat yang diperkuat operasi udara menggunakan helikopter water bombing.

"Untuk daerah-daerah lain yang tidak lahan gambut ini mudah dipadamkan, Bapak Presiden. Kalau satgas daratnya nanti dengan dibantu operasi satgas udara, heli water bombing, ini biasanya segera bisa padam," ujar Suharyanto.

(M Sholahadhin Azhar)