Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla. (Dokumentasi/ YouTube BNPB Indonesia)
Bibit Awan Tipis, Modifikasi Cuaca di Kalbar Gagal Hasilkan Hujan
Silvana Febiari • 2 September 2026 16:16
Pontianak: Operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat belum menghasilkan hujan. Sebab, kondisi atmosfer minim bibit awan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan OMC telah dilakukan dengan mengerahkan satu armada untuk menyemaikan 800 kilogram garam selama 1 jam 35 menit.
"Namun demikian, hasil akhir dari penyemaian ini kurang maksimal, alias tidak ada hujan yang terjadi karena memang minimnya, tipisnya bibit-bibit awan yang ada di atmosfer," kata Berton saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla, Rabu, 2 September 2026.
Kondisi tersebut terjadi ketika karhutla masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat. Berdasarkan data per 1 September 2026, BNPB mencatat terdapat 31 titik api dengan luas lahan terbakar diperkirakan lebih dari 511 hektare.
"Kemarin, tanggal 1 September 2026, luas terbakar diperkirakan sebesar 511 hektare lebih dan yang berhasil dipadamkan sebesar 135 hektar lebih," ungkap Berton.
Berton mengatakan operasi penanganan karhutla dilakukan di sejumlah lokasi prioritas berdasarkan pemetaan. Operasi darat saat ini mencakup 25 lokasi yang tersebar di delapan kabupaten/kota.
Sementara itu, penanganan dari udara dilakukan menggunakan empat helikopter water bombing yang dikerahkan ke tiga wilayah, yakni Kabupaten Mempawah, Ketapang, dan Kubu Raya.
"Satgas Udara juga bekerja melalui patroli, di mana kita memiliki armada dua unit untuk melakukan patroli dan ini dua sorti, dua kali melakukan pemantauan, dengan waktu pemantauan itu sebesar 8 jam 49 menit," ujarnya.

Para relawan saat memadamkan api di Jalan Parit H Mukhsin, Kabupaten Kubu Raya, pada Selasa, 1 September 2026. ANTARA/HO-Sucia Lucinda
Selain patroli, empat helikopter water bombing telah menjatuhkan 408 ribu liter air untuk membantu memadamkan karhutla. Operasi tersebut tercatat berhasil memadamkan kebakaran di area seluas sekitar enam hektare.
Berton menuturkan kondisi cuaca dan atmosfer menjadi salah satu faktor penting dalam upaya penanganan karhutla, terutama melalui operasi modifikasi cuaca.
Di sisi lain, kualitas udara di Kalimantan Barat saat ini tergolong berbahaya dengan jarak pandang berada di bawah satu kilometer. "Kualitas udara di sana tergolong berbahaya dengan jarak pandang di bawah 1 km," ucap Berton.
Meski kondisi karhutla dan kualitas udara menjadi perhatian, kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak tetap dilakukan dari rumah. Sementara itu, masyarakat masih beraktivitas seperti biasa.