Pemadaman karhutla yang dilakukan pemerintah lewat UPT Wilayah Kayong dengan masyarakat dan korporasi di wilayah Kayong Utara, Kalbar. ANTARA/HO-Istimewa
Kualitas Udara Kalbar Berbahaya, Jarak Pandang di Bawah 1 Kilometer
Silvana Febiari • 2 September 2026 15:54
Pontianak: Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) tergolong berbahaya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jarak pandang tercatat di bawah satu kilometer.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
"Yang pertama kita lihat di Kalimantan Barat, situasinya saat ini ditemukan titik api sebanyak 31 titik. Kemarin, tanggal 1 September 2026, luas terbakar diperkirakan sebesar 511 hektare lebih dan yang berhasil dipadamkan sebesar 135 hektare lebih. Kualitas udara di sana tergolong berbahaya dengan jarak pandang di bawah 1 kilometer," kata Berton saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla, Rabu, 2 September 2026.
Baca Juga :
Ia mengatakan penanganan karhutla dilakukan melalui Satgas Darat dan Satgas Udara yang dikerahkan di sejumlah wilayah prioritas. Berdasarkan pemetaan, operasi darat dilakukan di 25 lokasi yang tersebar di delapan kabupaten/kota di Kalimantan Barat.
Sementara itu, operasi udara mengerahkan empat helikopter water bombing untuk menangani karhutla di tiga wilayah, yakni Kabupaten Mempawah, Ketapang, dan Kubu Raya.
Selain pemadaman dari darat dan udara, pihaknya juga melakukan patroli udara untuk memantau kondisi kebakaran. Dua armada digunakan untuk patroli dengan dua sorti dan total waktu pemantauan mencapai 8 jam 49 menit.
Untuk operasi water bombing, empat helikopter telah dikerahkan dengan total air yang dijatuhkan mencapai 408 ribu liter. Upaya tersebut berhasil memadamkan kebakaran di area seluas sekitar enam hektare.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla. (Dokumentasi/ YouTube BNPB)
Upaya lain dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC). Satu armada dikerahkan untuk menyemaikan 800 kilogram garam selama 1 jam 35 menit.
"Namun demikian, hasil akhir dari penyemaian ini kurang maksimal, alias tidak ada hujan yang terjadi karena memang minimnya, tipisnya bibit-bibit awan yang ada di atmosfer," ujarnya.
Berton mengatakan kondisi karhutla di Kalimantan Barat masih menjadi perhatian. Penanganan terus dilakukan secara terpadu oleh tim gabungan.
Di tengah kondisi tersebut, kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak tetap dilakukan dari rumah. Sementara aktivitas masyarakat masih berlangsung seperti biasa.