Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
IHSG 'Ngamuk'! Melonjak 155 Poin ke Level Tertinggi Baru
Ade Hapsari Lestarini • 24 November 2025 17:51
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini merangsek naik hingga mencapai 155 poin. IHSG mampu mempertahankan penguatannya sejak perdagangan pagi dan mendarat di level 8.500-an.
Berdasarkan data RTI, Senin, 24 November 2025, IHSG sore naik 155,9 poin atau setara 1,85 persen ke posisi 8.570. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 8.458. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 8.429 dan tertinggi di posisi 8.570.
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 51,656 miliar senilai Rp45,655 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp15,692 triliun dengan frekuensi sebanyak 2.551.884 kali.
Sore ini, tercatat sebanyak 343 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 297 saham melemah, dan 172 saham lainnya stagnan.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar
Faktor pemicu penguatan IHSG
Melansir Antara, dari mancanegara, rangkaian data yang sebelumnya tertunda akibat government shutdown AS mulai dirilis kembali, termasuk Indeks Harga Produsen (IHP) AS periode September 2025, penjualan ritel, pesanan barang tahan lama, serta data inflasi Price Consumer Index (PCE).
Semua data-data ekonomi AS tersebut akan menjadi penentu ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga acuan oleh The Fed dalam Federal Open Market Committee (FOMC) pada Desember 2025.
Pada pekan ini, perdagangan Bursa AS lebih pendek seiring libur Thanksgiving pada Kamis, 27 November 2025 dan akan tutup lebih awal Jumat, 28 November 2025 sehingga volatilitas berpotensi meningkat.
Sedangkan dari kawasan Eropa, fokus pelaku pasar tertuju pada data inflasi Jerman, Prancis, Italia, serta Anggaran Musim Gugur Inggris yang diproyeksikan menaikkan pajak. Serta dari kawasan Asia, PMI manufaktur dan non-manufaktur resmi Tiongkok periode November 2025 akan menjadi sorotan karena sektor manufaktur telah mengalami kontraksi tujuh bulan beruntun.
Secara keseluruhan, pada pekan ini, pasar global dipenuhi data-data besar dari AS, Tiongkok, dan Eropa yang berpotensi menghantui sentimen pasar Indonesia yang minim katalis domestik.