Kemenkes Mempercepat Ketersediaan Dokter Spesialis Mata di Daerah Terpencil

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Kemenkes Mempercepat Ketersediaan Dokter Spesialis Mata di Daerah Terpencil

Metro TV • 13 October 2026 14:44

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat ketersediaan dokter spesialis mata. Langkah ini menjadi fokus utama agar masyarakat di wilayah terpencil mendapatkan hak atas layanan kesehatan mata secara merata dan memadai.

“Kalau kita lihat kan dokter mata itu baru 3.000 ya, dan saat ini dokter mata itu paling banyak terkonsentrasi di Jawa dan Bali. Ini hampir sama lah sama pola apa dokter spesialis lainnya ya,” ujar Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Selasa, 13 Oktober 2026.
 


Pemerintah meluncurkan program pendidikan dokter spesialis berbasis Rumah Sakit Pendidikan Penyelenggara Utama (RSPPU). Langkah ini guna mempercepat pencetakan tenaga ahli baru.

“Jadi ada sekolah yang tadinya di universitas saja, sekarang kita kan buka sekolah di rumah sakit di Cilandak ya, untuk kemudian dokter umum bisa belajar di institusi spesialis mata,” kata Nadia.

Selain mencetak sumber daya manusia (SDM), pemenuhan aspek penunjang seperti fasilitas medis dan alat kesehatan terus dikebut secara bertahap. Hal ini dilakukan agar para dokter yang ditempatkan di fasilitas kesehatan daerah terpencil dapat langsung bekerja optimal.

“Kedua, kita ada program penugasan khusus ya. Jadi kita bisa ada dokter-dokter ditugaskan, tapi tadi disampaikan ya, kalau untuk peralatan mata itu kan cukup banyak ya, jadi enggak cuman dokternya aja, tapi harus dilengkapi (fasilitas medis). Jadi kita secara bertahap juga melakukan pemenuhan peralatan kebutuhan mata,” jelas Nadia.

Kemenkes juga mencatat jarak tempuh ekstrem di kawasan pelosok kerap menjadi hambatan utama pasien. Khususnya untuk mendapatkan perawatan medis tepat waktu.

“Daerah-daerah tadi seperti yang disampaikan, Kalimantan Tengah, Palangkaraya atau Banjarmasin itu kan ada yang sampai 12 jam ya sampai ke daerah, tapi dokter matanya enggak ada,” tutur Nadia.

Sebagai langkah intervensi nyata, Kemenkes terus mendorong pemerintah kabupaten dan kota untuk melengkapi fasilitas penunjang serta mengoptimalkan penempatan dokter spesialis. Hasilnya, wilayah yang sebelumnya mengalami krisis tenaga medis kini mulai menunjukkan perbaikan akses layanan.

“Makanya kemudian di kabupaten kota itu kita lengkapi dan kita kemudian ada penugasan dokter mata di situ. Tadi kan disampaikan Palangkaraya sekarang sudah punya tiga (dokter mata) ya seperti itu,” kata Nadia.

(Fachri Audhia Hafiez)