Profil Gus Baha, Ulama Ahli Tafsir yang Jadi Wakil Rais Aam PBNU

Gus Baha. Foto: Media Santri NU.

Profil Gus Baha, Ulama Ahli Tafsir yang Jadi Wakil Rais Aam PBNU

4 October 2026 21:35

Jakarta: Kiai Haji Bahauddin Nur Salim atau Gus Baha merupakan ulama yang dikenal melalui kajian Al-Qur’an, tafsir, dan fikih. Namanya juga banyak dikenal masyarakat melalui rekaman pengajian yang tersebar di berbagai platform digital.

Gus Baha kini mendapat amanah baru dalam kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia ditetapkan sebagai Wakil Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031, mendampingi KH Miftachul Akhyar yang menjabat sebagai Rais Aam.

Profil Gus Baha ditulis cukup lengkap dalam Musala: Jurnal Pesantren dan Kebudayaan Islam Nusantara dalam artikel "Profil KH. Bahaudin Nur Salim" karya Qowim Musthofa. Berikut ini informasi selengkapnya:

Latar Belakang dan Pendidikan Gus Baha

Gus Baha lahir pada 29 September 1970. Ia merupakan putra KH Nur Salim, seorang penghafal Al-Qur’an yang pernah belajar kepada KH Abdullah Salam Kajen, Pati. Sejak kecil, Gus Baha belajar dan menghafalkan Al-Qur’an di bawah bimbingan ayahnya.

Setelah belajar kepada ayahnya, Gus Baha melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, yang diasuh KH Maimoen Zubair. Di sana, ia memperdalam berbagai ilmu keislaman, terutama fikih.

Kemampuan Gus Baha dalam bidang tafsir kemudian membuat Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta melibatkannya dalam kegiatan yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Gus Baha dipercaya menjadi bagian dari tim tashih mushaf dan turut menyusun tafsir Al-Qur’an.

Dalam perjalanan keilmuannya, Gus Baha juga memiliki hubungan keilmuan dengan KH Maimoen Zubair.

Karya Gus Baha

Gus Baha tidak hanya aktif mengajar, tetapi juga menghasilkan sejumlah karya.

Pertama, Hifdzuna Li Hadza al-Mushaf, karya berbahasa Arab yang merupakan ringkasan dari kitab al-Muqni’ karya Abu Amr ad-Dani. Karya tersebut terdiri dari 69 halaman.

Kedua, Khazanah Andalusia yang ditulis bersama Gus Wafi, putra KH Maimoen Zubair. Buku yang terbit pada 2005 tersebut membahas Alfiyah Ibnu Malik dan ilmu nahwu. Buku ini kembali dicetak pada 2021.

Ketiga, Tafsir Al-Qur’an yang disusun bersama tim UII. Karya tersebut menggunakan metode tahlili dan diterbitkan dalam 10 volume pada 2018.

Perjalanan Dakwah Gus Baha

Setelah menikah pada 2003, Gus Baha mulai mengembangkan kegiatan pengajian di Yogyakarta. Pada 2004, ia menyewa rumah di Pendowoharjo, Sewon, Bantul, dan mengadakan majelis kecil yang diikuti beberapa santri.

Setahun kemudian, setelah KH Nur Salim wafat, Gus Baha kembali ke Sedan, Rembang, untuk menggantikan ayahnya di Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Al-Qur'an (LP3IA).

Sementara itu, kegiatan kajian di Bantul berlangsung dengan sejumlah jadwal. Materi yang dikaji antara lain Tafsir Jalalain, Al-Hikam, dan Nashaihul Ibad.

Ketika pandemi covid-19 berlangsung, kegiatan pengajian di Bantul dihentikan, sementara aktivitas pengajaran tetap dilanjutkan di LP3IA.

Jadi Wakil Rais Aam PBNU

Perjalanan Gus Baha di bidang keilmuan dan dakwah kini berlanjut dengan amanah di tingkat PBNU. Dalam susunan kepengurusan PBNU masa khidmah 2026-2031 yang diumumkan pada 30 September 2026, Gus Baha ditetapkan sebagai Wakil Rais Aam PBNU.

Ia mendampingi KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam. Selain Gus Baha, posisi Wakil Rais Aam diisi KH Nurul Huda Jazuli, KH Anwar Iskandar, KH Afifuddin Muhajir, dan KH Muhammad Musthofa Aqiel Siroj.

Penetapan tersebut menambah peran Gus Baha dalam struktur organisasi NU setelah selama ini dikenal luas melalui pengajaran dan kajian keislaman, khususnya dalam bidang Al-Qur’an, tafsir, dan fikih.

(Siti Nahdia Usman)

(Arga Sumantri)