Pramono-Dishub DKI akan Bahas soal CFD hingga Ganjil Genap

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo saat dijumpai usai meninjau pengerukan Kali Kebon Melati, Jakarta Pusat, Senin (28/9/2026). ANTARA/Lifia Mawaddah Putri.

Pramono-Dishub DKI akan Bahas soal CFD hingga Ganjil Genap

Achmad Zulfikar Fazli • 28 September 2026 12:03

Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo akan bertemu dengan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaluddin untuk membahas terkait car free day (CFD) hingga peraturan ganjil genap. Namun, Pramono belum mendetailkan poin pembahasan tersebut.

“Kebetulan sore ini saya menerima Kadishub yang akan melaporkan beberapa hal, termasuk di dalamnya ganjil genap, kemudian car free day,” jelas Pramono usai meninjau pengerukan Kali Kebon Melati, Jakarta Pusat, dilansir dari Antara, Senin, 28 September 2026.

Pramono mengatakan pembahasan ini diperlukan sebagai bahan evaluasi. Sehingga, kegiatan CFD dan ganjil genap benar-benar dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

“Intinya begini, saya tidak mau kebijakan itu hanya bersifat seremonial dan tidak memberikan dampak yang signifikan bagi perubahan atau bagi masyarakat,” kata Pramono.

Dia berharap apa pun yang nanti diputuskan terkait ganjil genap hingga CFD dapat memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Jakarta.

“Karena itu menjadi tujuan utama kita semua,” jelas Pramono.

Ilustrasi suasana car free day di kawasan Jalan Rasuna Said, Jakarta. Metro TV/Arini


Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat mengusulkan CFD di Jakarta digelar dua kali dalam sepekan, yakni Sabtu dan Minggu.

Dishub DKI Jakarta juga telah menggelar Focus Group Discussion (FGD) soal kebijakan ganjil genap (gage). Mereka meminta masukan masyarakat dan evaluasi setelah 10 tahun kebijakan itu berjalan.

"FGD ganjil genap kemarin kan hanya meminta masukan masyarakat, seperti itu. Dan memang perlu ada kajian lebih," kata Kadishub DKI Budi Awaludin.

Dalam FGD tersebut, pembahasan mencakup sejumlah aspek yang berkaitan dengan penerapan ganjil genap. Di antaranya kondisi perekonomian, lingkungan, emisi, serta karakteristik kendaraan.

“Kajian lebih mendalam lagi terkait ganjil genap, yang nantinya akan berkorelasi terkait masalah perekonomian, terkait juga lingkungan hidup dan juga emisi saat ini, berkorelasi juga terkait jenis kendaraan. Nah, ini banyak hal yang memang harus dikaji lebih mendalam,” jelas Budi.

Menurut Budi, masukan dari pelaku usaha menjadi salah satu pertimbangan dalam evaluasi. Sejumlah pelaku usaha menginginkan penerapan aturan tersebut dibuat lebih longgar.

“Misalkan kalau dari apa namanya, para pelaku usaha minta direlaksasi kan, seperti itu,” kata Budi.

(Achmad Zulfikar Fazli)