Dosen FKIP Universitas Jember, Randi Pratama Murtikusuma, S.Pd., M.Pd., yang meluruskan mitos seputar penyusunan skripsi. Dok. Istimewa
Mahasiswa Diminta Tak Ragu Tentukan Topik Skripsi, Temukan Celah Penelitian
Achmad Zulfikar Fazli • 30 September 2026 14:46
Jakarta: Mahasiswa diminta tidak ragu menentukan topik atau judul skripsi. Penelitian tetap dapat dikembangkan dari topik skripsi yang ada selama mampu menemukan celah penelitian yang jelas.
“Mahasiswa tidak perlu takut jika topiknya sudah pernah diteliti. Yang penting (mereka) punya alasan yang kuat untuk menjelaskan celah dan persoalan penelitiannya. Nah, alasan kuat itu yang justru menunjukkan orisinalitas penelitian,” ujar dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember, Randi Pratama Murtikusuma, melalui keterangan tertulis, Senin, 28 September 2026.
Randi menjelaskan celah penelitian (research gap) dapat ditemukan dengan membandingkan penelitian terdahulu. Mahasiswa dapat melihat keterbatasan penelitian sebelumnya, perbedaan hasil, atau aspek tertentu yang masih jarang dikaji. Pencarian tersebut dapat dilakukan melalui Google Scholar yang dapat diakses gratis.
Randi juga menyoroti mitos yang kerap muncul bahwa skripsi harus dibuat serumit mungkin agar dianggap berkualitas. Menurut Randi, tingkat kerumitan penelitian tidak menjadi satu-satunya ukuran. Kejelasan masalah dan ketepatan metode menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan mahasiswa.
“Penelitian sederhana bukan berarti kurang baik. Selama masalahnya jelas dan dasarnya kuat, penelitian itu juga bisa berkualitas. Metodenya tinggal disesuaikan dengan tujuannya,” kata Randi.
Dari pengalamannya mendampingi mahasiswa, Randi mulai serius membuat konten edukasi tentang skripsi melalui media sosial sejak Juli 2025. Gagasan tersebut muncul dari pengalaman mendampingi mahasiswa yang terkendala menentukan arah penelitian sampai menghadapi proses bimbingan.
Dia melihat persoalan serupa dialami mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Melalui akun Instagram dan TikTok-nya, Randi membagikan materi mengenai penyusunan skripsi dengan bahasa yang mudah dipahami. Dia juga membuka ruang tanya jawab.
Pengalamannya sebagai dosen membentuk sudut pandang Randi mengenai kemampuan yang perlu dimiliki mahasiswa. Dia menilai menemukan ide penelitian, menyusun latar belakang, serta menulis pembahasan membutuhkan penalaran mahasiswa.
Bantuan dari buku, jurnal, dosen pembimbing, maupun kecerdasan buatan tetap dapat digunakan, tetapi pemahaman terhadap penelitian harus dibangun oleh mahasiswa.
“Teknologi hanya alat bantu. Yang terpenting adalah bagaimana mahasiswa memahami masalah, menilai informasi, dan menjelaskan alasan di balik hasil penelitiannya. Semua itu harus berasal dari pemikirannya sendiri,” tutur Randi.

Ilustrasi. Medcom
Randi juga meluruskan anggapan mahasiswa harus menunggu tulisan sempurna sebelum melakukan bimbingan. Menurut dia, bimbingan merupakan bagian dari proses untuk mendiskusikan kendala dan memperbaiki kekurangan. Menunda bimbingan karena takut mendapat revisi dapat membuat pengerjaan skripsi semakin terhambat.
“Tidak perlu menunggu semuanya sempurna baru mau bimbingan. Karena kalau menunggu sempurna, masukan dari dosen juga ikut tertunda. Yang penting datang dengan persiapan dan usaha, serta terbuka pada masukan supaya prosesnya berjalan lebih terarah,” ucap Randi.
Selain mengajar, Randi mengembangkan berbagai bahan pendamping seperti buku elektronik mengenai pertanyaan sidang, penelitian kuantitatif dan kualitatif, serta penggunaan kecerdasan buatan dalam penyusunan skripsi. Konten dan bahan tersebut berangkat dari persoalan yang ditemui dalam pendampingan mahasiswa.
Menurut dia, mahasiswa perlu membangun kemampuan membaca sumber, merumuskan masalah, menganalisis temuan, dan mempertanggungjawabkan keputusan penelitian. Proses tersebut berperan penting dalam membentuk kemandirian berpikir, yang tetap berguna hingga mahasiswa melanjutkan studi atau memasuki dunia kerja.