Petani menanam padi pada areal lahan persawahan di Desa Banyu Urip, Kecamatan Gedung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 18 April 2026. ANTARA/Sugiharto Purnama
BMKG Prediksi Musim Hujan di NTB Hanya Berlangsung 3–4 Bulan
Silvana Febiari • 30 September 2026 16:23
Lombok Barat: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim hujan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) berlangsung mundur dan lebih pendek. Durasinya hanya sekitar tiga hingga empat bulan.
"Musim hujan normal berlangsung selama enam hingga tujuh bulan. Sedangkan musim hujan kali ini di NTB lebih pendek dengan durasi dominan sekitar 10-12 dasarian atau kurang lebih tiga sampai empat bulan," kata Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo, dilansir dari Antara, Rabu, 30 September 2026.
Fenomena musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya dipengaruhi oleh El Nino yang kuat dan sirkulasi monsun. Suhu permukaan laut di sekitar perairan NTB juga memengaruhi waktu kedatangan dan durasi musim hujan.
Baca Juga :
Pada Agustus 2026, kondisi suhu permukaan laut di Samudera Pasifik bagian tengah ekuator berada dalam kondisi El Nino sangat kuat dengan indeks +2,83 derajat Celcius.
Adapun angin baratan atau Monsun Asia diprediksi mulai aktif pada November 2026. Saat ini, sirkulasi angin timuran atau Monsun Australia pada lapisan 850mb masih mendominasi wilayah Indonesia.
Sedangkan anomali suhu permukaan laut perairan Indonesia pada Oktober 2026 hingga Maret 2026 diprediksi didominasi kondisi normal hingga hangat. Angkanya berkisar antara minus 0,5 sampai 1 derajat Celcius.
BMKG memprediksi musim hujan mulai memasuki wilayah NTB pada Desember 2026. Puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Maret 2027 dengan cakupan mencapai 14.168 kilometer persegi atau setara 78 persen wilayah NTB.
Musim hujan diperkirakan lebih basah karena curah hujan yang biasanya turun selama enam bulan terkonsentrasi dalam tiga hingga empat bulan. Kondisi ini membuat pengelolaan air dan kegiatan pertanian perlu disiapkan dengan baik.
"Untuk sumber daya air dan infrastruktur, kita perlu mengantisipasi pengelolaan air serta kapasitas drainase. Sementara sektor kebencanaan dan lingkungan, kita sama-sama perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi genangan, banjir dan longsor," ucap Nuga.

Ilustrasi hujan. (Pexels/Md Nadim Mahmud)
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mengimbau masyarakat melakukan langkah mitigasi sejak dini dalam menghadapi musim hujan yang diprediksi tiba sekitar dua bulan lagi.
Kepala Bidang Rehabilitasi, Rekonstruksi dan Kerja Sama Penanggulangan Bencana BPBD NTB Awan Darmawan menyampaikan puncak musim hujan rentan menimbulkan banjir dan tanah longsor di Kabupaten Lombok Timur, Lombok Barat, serta wilayah Sumbawa dan Bima.
Ia menyarankan setiap rumah, terutama di wilayah Lombok bagian selatan membuat sumur resapan sedalam tiga meter dengan diameter satu meter agar bisa menampung limpasan air hujan. Sumur resapan tersebut sangat membantu menyimpan cadangan air sekaligus mengurangi risiko banjir.
"Inilah yang kami sebut panen air hujan, menyimpan air saat melimpah untuk digunakan saat kemarau kembali," ungkap Awan.
Dia mengarahkan pemerintah desa memanfaatkan sisa dana desa untuk mitigasi, seperti membuat bronjong, memperbaiki saluran pembuangan, dan mengeruk bantaran sungai. Usulan pokok pikiran anggota legislatif juga diarahkan untuk mendukung penanggulangan bencana di NTB.
"Penanganan tidak bisa hanya mengandalkan BPBD. Seluruh elemen masyarakat harus bergerak bersama sejak sekarang agar tidak terlambat menghadapi cuaca ekstrem," tutur Awan.