Harapan di Bandara Frans Seda Maumere, Tumpuan Penyaluran Bantuan Gempa NTT

Posko BNPB di Bandara Frans Seda Maumere. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.

Harapan di Bandara Frans Seda Maumere, Tumpuan Penyaluran Bantuan Gempa NTT

Anggi Tondi Martaon • 23 August 2026 09:01

Maumere: Ratusan hingga ribuan boks berisi logistik didorong dengan troli di Bandara Frans Seda Maumere, Nusa Tenggara Timur (NTT). Petugas bandara seolah tak mengenal lelah memastikan bantuan terdistribusi.

Isi boks, lebih dari logistik. Isi boks tersebut adalah harapan dari warga yang menjadi korban gempa magnitudo 7,7 di NTT.

Petugas bandara bolak-balik, memastikan logistik dapat didistribusikan. Di tangan mereka, harapan diantarkan pada warga yang butuh pertolongan.

Langkah kaki petugas memastikan distribusi bantuan tak terhambat. Sebab, mereka menghadapi banyak hal selain waktu, yaitu gempa susulan yang terus mengancam.
 


Sopir mobil sewaan, Avi, jadi saksi bagaimana petugas bandara tak kenal lelah. Mereka rela bertugas hingga larut untuk menerima dan mengantar logistik, harapan bagi warga terdampak gempa NTT.

"Biasanya (melayani) dua atau tiga kali penerbangan tiap hari. Tapi, sejak gempa itu, waduh sampai malam," kata Avi pada Metrotvnews.com, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Avi bercerita, bagaimana bala bantuan turut datang mendukung kinerja petugas bandara. Polri hingga TNI dan perwakilan perusahaan pelat merah yang bernaung di bawah bendera Danantara, ikut berpartisipasi.

Bandara Frans Seda yang dikelola InJourney, menjadi salah satu tulang punggung penyaluran bantuan di NTT. Khususnya, untuk wilayah Sikka, yang mengalami kerusakan cukup parah.

Jika hanya mengandalkan Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo, butuh waktu hampir setengah hari perjalanan darat Kabupaten Nagekeo, salah satu daerah terdampak gempa yang cukup parah.  Jika melihat Google Maps, butuh perjalanan darat 9 jam 56 menit untuk melalui jalur darat sejauh 353 kilometer agar bantuan sampai ke lokasi. 

Pastinya, butuh waktu lebih lama jika perjalanan menggunakan truk agar bantuan bisa diterima oleh korban. Hal itu tentunya tak efektif, karena korban membutuhkan berbagai keperluan agar tetap bisa bertahan di tengah bencana.

Sedangkan jarak Bandara Frans Seda Maumere ke Nagekeo hanya 211 kilometer. Waktu tempuh perjalanan darat sekitar 5 jam. Sehingga, keberadaan bandara tersebut sangat efektif dalam menyalurkan bantuan. 


Bantuan korban gempa di BPBD Sikka. Foto: Metrotvnews.com/Anggi Tondi Martaon.

Di sisi lain, Nagekeo dekat dengan Bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende. Jaraknya hanya 66,9 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam 42 menit melalui jalur darat. Namun, berdasarkan informasi Direktorar Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, bandara tersebut hanya melayani pesawat jenis ATR.

Berbeda dengan Bandara Komodo dan Frans Seda. Kedua bandara tersebut bisa digunakan oleh pesawat jenis Boeing 737-800.

Maka tak heran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendirikan posko di salah satu sisi Bandara Frans Seda Maumere. Posko tersebut berfungsi sebagai tempat pengumpulan bantuan sebelum diteruskan ke lokasi bencana dengan truk.

Selain itu, ada dua helikopter yang terparkir di Bandara Frans Seda Maumere. Jika dilihat dari coraknya, helikopter tersebut milik Polri dan BNPB.

Selain ke Ende, bantuan disalurkan ke Pulau Palue, Kabupaten Sikka, dan  episentrum gemap magnitudo 7,7 di Kabupaten Nagekeo.

Pelayanan Lancar di Tengah Peningkatan Lalu Lintas Udara

Beruntung Bandara Frans Seda Maumere tidak mengalami kerusakan cukup parah saat gempa mengguncang. Sehingga, tetap bisa melayani penerbangan domestik hingga distribusi bantuan bencana.

Faktor alam juga cukup bersahabat selama sepekan terakhir. Tak ada gangguan yang mengganggu lalu lintas udara.

Heni, salah satu yang mengelola warung makan di Bandara Frans Seda Maumere mengatakan, salah satu  hal yang dapat mengganggu lalu lintas udara di wilayah tersebut yaitu erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Beruntung, gunung berapi aktif tersebut 'anteng' selama sepekan terakhir.

"Ini untung Gunung Lewotobi tidak erupsi. Jadi pengiriman logistik lewat pesawat lancar sampai sekarang," kata Heni.

Selain lalu lintas udara, kendaraan besar silih berganti keluar masuk area Bandara Frans Seda Maumere hingga malam hari. Mereka berupaya agar bantuan cepat sampai ke tangan korban.

(Fachri Audhia Hafiez)