Menyisir Langit dan Darat, Cara TNI Redam Bara Karhutla Kalimantan

Pasukan TNI berjibaku memadamkan api Karhutla Kalimantan. Foto: Dok/Puspen TNI

Menyisir Langit dan Darat, Cara TNI Redam Bara Karhutla Kalimantan

Gabriella Thesa Widiari • 23 August 2026 07:30

Jakarta: Alam Kalimantan belum terbebas dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengintai sejak beberapa waktu belakangan. Di tengah kepungan titik panas, TNI memperluas penguatan pasukan, baik di darat maupun udara, untuk meredam amukan si jago merah. 

Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung rapat koordinasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Kepala Negara menginstruksikan tambahan tiga batalyon TNI dari luar Kalimantan untuk meredam titik-titik api dari jalur darat. 

"Sejumlah langkah penanganan yang disiapkan, yaitu penambahan tiga batalyon TNI atau sekitar 1.500 personel dari luar Kalimantan yang akan didatangkan mulai hari ini hingga Minggu pagi," ujar Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang ikut mendampingi Kepala Negara dalam rapat.

Bagi pasukan di darat, tugasnya bukan sekadar mendatangi lokasi yang terbakar. Mereka harus bergerak cepat menuju titik api, membantu pemadaman, sekaligus mencegah api menjalar lebih luas.
 


Namun, medan alam Kalimatan yang terbakar tak selalu mampu ditaklukan hanya dengan kekuatan pasukan dari darat. Bentang lahan yang luas membuat dukungan dari udara menjadi bagian penting dalam operasi.


Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung koordinasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Foto: Dok/Puspen TNI

Untuk mengatasi hambatan itu, pemerintah pun menambahkan enam helikopter yang dijadwalkan tiba pada Sabtu sore, 22 Agustus 2026. Armada udara itu memiliki kapasitas besar untuk menjalankan operasi water bombing. 

Siapkan Hujan Buatan 

Tiga pesawat Cassa-212 TNI Angkatan Udara (AU) bersiap mengelilingi bentang lahan Kalimantan. TNI menyiapkan burung besi bermesin ganda itu untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Satu pesawat Cassa-212 A-2105 berada di Lanud Dhomber, Balikpapan, untuk mendukung rekayasa cuaca di wilayah Ibu Kota Nusantara. Dua pesawat lainnya, A-2117 dan A-2103, disiapkan untuk membantu operasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
 
Operasi ini bukan hanya untuk menghadapi api yang sudah muncul.  Tetapi juga memanfaatkan kondisi atmosfer untuk membantu menghadirkan hujan di wilayah yang membutuhkan.

Dalam operasi ini, TNI bersinergi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

BNPB sebelumnya melaporkan telah melaksanakan OMC pada 11-18 Agustus 2026, namun operasi harus dihentikan sementara sebab belum terdapat potensi awan yang memadai. Berdasarkan koordinasi dengan BMKG, potensi awan diperkirakan kembali muncul pada 23 Agustus.

4 Provinsi, 4 Komando Penanganan

Besarnya wilayah terdampak membuat penanganan Karhutla tidak bisa dilakukan dari satu titik. Presiden Prabowo membagi penugasan jajaran TNI dan Polri untuk bergerak langsung di empat provinsi Kalimantan.

Di Kalimantan Barat, penanganan dipimpin Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Di Kalimantan Tengah, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak ditugaskan bersama Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo.


Anggota TNI dan petugas Damkar terus berjibaku memadamkan kobaran api yang melahap hutan dan lahan di Kalimantan. Foto: Dok/Puspen TNI 


Sementara itu, Kalimantan Selatan berada di bawah koordinasi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali bersama Astamaops Polri Komjen Muhammad Fadil Imran.

Sedangkan di Kalimantan Timur, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita ditugaskan bersama Komandan Korps Brimob Polri Komjen Ramdani Hidayat.

Pembagian tersebut menunjukkan pola penanganan yang diarahkan agar setiap wilayah memiliki komando yang jelas. TNI dan Polri tidak hanya menunggu api membesar, tetapi diminta turun langsung bersama pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Berpacu dengan Waktu

Karhutla bukan sekadar soal api, tetapi juga dampak yang ditimbulkan. Ada masyarakat yang aktivitasnya terganggu, lingkungan yang terdampak, hingga potensi kerusakan yang semakin luas apabila si jago merah tak segera dikendalikan.Api memang berada di permukaan tanah. Namun untuk menaklukkannya, operasi harus dilakukan dari berbagai arah.
 
Penanganan karhutla merupakan operasi lintas kekuatan. TNI sebagai salah satu ujung tombak, menggabungkan kemampuan pasukan darat, kekuatan udara, dan dukungan operasi modifikasi cuaca.


Anggota TNI terus menyisir titik-titik spot kobaran api yang melahap hutan dan lahan di Kalimantan. Foto: Dok/Puspen TNI 



Di tengah bentang Kalimantan yang luas dan titik api yang tersebar, 1.500 personel tambahan kini disiapkan untuk bergerak. Dari udara, enam helikopter akan membawa air menuju titik-titik yang sulit dijangkau pasukan darat. Di langit yang sama, pesawat TNI AU mendukung upaya membuat hujan buatan atau operasi modifikasi cuaca.

Kehadiran Presiden Prabowo di Kalimantan menegaskan komitmen pemerintah dalam penanganan karhutla. Kepala Negara meminta seluruh jajaran bergerak cepat agar kebakaran dapat segera ditangani dan masyarakat di wilayah terdampak kembali beraktivitas secara normal. 

Pemerintah juga menegaskan akan melakukan penindakan hukum terhadap setiap pelanggaran yang ditemukan dalam peristiwa Karhutla di Kalimantan.

Apalagi rumor tentang dugaan adanya pembakaran hutan dan lahan yang dilakukan secara sengaja oleh korporasi semakin santer terdengar. 

"Harus kita tindak ya, akan kita tindak. Kalau benar-benar terbukti, ya kita tindak. Kita akan tindak sesuai dengan hukum dan peraturan," kata Prabowo dalam keterangan tertulis, Sabtu, 22 Agustus 2026.

(Gabriella Thesa Widiari)