Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Anadolu
Netanyahu Klaim Ilmuwan Nuklir Papan Atas Iran Tewas dalam Serangan Udara Israel
Fajar Nugraha • 13 March 2026 09:47
Yerusalem: Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa serangan udara pihaknya telah menewaskan seorang ilmuwan nuklir papan atas Iran dan melukai sejumlah pakar lainnya.
Dalam konferensi pers pada Kamis, 12 Maret, ia menegaskan bahwa penghancuran sisa-sisa program nuklir Iran menjadi target utama operasi militer ini.
Netanyahu juga mengecam Pemimpin Tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei yang tidak berani muncul di depan publik.
Pada akhirnya Netanyahu menyerukan kepada rakyat Iran untuk mengambil jalan kebebasan baru dan menyatakan bahwa Israel mendukung aspirasi tersebut.
Ia juga menegaskan akan terus menggunakan blokade Selat Hormuz sebagai alat tawar terhadap Amerika Serikat dan Israel.
"Kami telah mempelajari pembukaan front baru di mana musuh memiliki sedikit pengalaman dan sangat rentan," tulis pernyataan tersebut, seperti dikutip NDTV World, Jumat, 13 Maret 2026.
Memasuki minggu kedua konflik, dampak ekonomi dan kemanusiaan semakin memburuk. Harga minyak mentah Brent naik 9 persen menjadi di atas 100 dolar AS per barel karena gangguan di Teluk.
Sementara itu, PBB mencatat hingga 3,2 juta warga Iran telah mengungsi, sementara di Lebanon terdapat 800.000 orang terluka akibat pertempuran Israel-Hezbollah. Militer AS melaporkan telah menggempur lebih dari 6.000 target di Iran, termasuk 30 kapal penebar ranjau.
Situasi di Lebanon semakin genting setelah Hezbollah meluncurkan sekitar 200 roket ke wilayah utara Israel. Sebagai balasan, Israel melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran di pusat kota Beirut, termasuk wilayah distrik Bashoura yang dekat dengan kantor PBB dan kedutaan internasional.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memperingatkan pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata Hezbollah secara mandiri, atau Israel akan mengambil alih wilayah tersebut untuk melakukannya sendiri.
Sementara itu di Irak, serangan drone terhadap pangkalan militer di Erbil dilaporkan melukai sejumlah personel militer Amerika Serikat. Serangan serupa juga terdeteksi menyasar aset-aset di Bahrain, Kuwait, Dubai, dan Arab Saudi, yang menandakan meluasnya cakrawala konflik di seluruh kawasan Timur Tengah.
(Kelvin Yurcel)