Ilustrasi kilang Pertamina. Foto: dok Pertamina.
Kapasitas Penyimpanan Jadi Kunci Ketahanan Stok BBM Nasional
Ade Hapsari Lestarini • 13 March 2026 18:18
Jakarta: Stok operasional BBM Indonesia cukup 20 hari ke depan bukan menandakan cadangan BBM akan habis setelahnya. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, mengatakan masyarakat perlu diedukasi ketersedian 20 hari itu berkaitan dengan kapasitas daya tampung atau storage BBM yang dimiliki oleh Indonesia.
"Setelah 20 hari, stok di storage akan bisa diisi lagi. Jadi sebenarnya ini kondisi baik-baik saja," kata Komaidi saat menjadi salah satu pembicara pada Energy Iftar Forum 2026 yang diadakan Energy Hub di Jakarta, dikutip Jumat, 13 Maret 2026.
Komaidi membandingkan dengan storage BBM di beberapa negara Asia Tenggara. Ia mencontohkan Vietnam hanya cukup untuk 15 hari, Laos memiliki storage dengan kapasitas 10 hari. Lalu negara tetangga lainnya, kata dia, seperti Australia memiliki storage BBM untuk 50 hari.
Sebaliknya Jepang memiliki ketersediaan BBM hingga 254 hari karena Jepang dalam sejarahnya bukan negara penghasil BBM sehingga mengharuskan negara itu memiliki daya tampung BBM dengan volume besar. "Mari sampaikan kepada khalayak agar tidak perlu ada kekhawatiran kalau memasuki Idulfitri nanti stok BBM akan habis," ujar Komaidi.
Sebelumnya, sempat muncul kegaduhan dan kepanikan setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut ketersediaan BBM Indonesia aman untuk 20 hari ke depan. Kondisi itu menjadi kontras karena Jepang memiliki stok hingga 254 hari namun pemerintahannya langsung melakukan koordinasi menyusul terjadinya perang Iran versi Amerika Serika-Israel.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro. Foto: istimewa.
Indonesia mampu menyamai Australia
Komaidi menyarankan kepada pemerintah dan Pertamina agar meningkatkan kapasitas stok penyimpanan nasional untuk minyak mentah dan hasil olahan minyak. Saat ini, kata dia, rata-rata kapasitas stok nasional hanya cukup untuk 14-30 hari. "Setidaknya Indonesia itu mampu menyamai Australia yang sampai 50 hari," kata dia.
Mengenai situasi sekarang dengan ketegangan di Timur Tengah yang belum mereda, Komaidi berharap pemerintah mengalihkan jalur impor dari Selat Hormuz ke jalur lain. Ia mengatakan saat ini masih banyak negara pemasok BBM yang tidak terlibat konflik. Hanya saja dengan pengalihan kapasitas impor yang melewati Selat Hormuz, tentunya berdampak terhadap adanya penambahan cost operasional.
"Pemerintah tinggal menambah cost impornya saja, sehingga kecukupan pasokan BBM kita tidak terpengaruh dengan situasi perang Iran vs Israel dan AS," ujar Komaidi.
Energy Iftar Forum 2026 merupakan ruang dialog strategis antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan praktisi untuk memperkuat koordinasi serta merumuskan rekomendasi kebijakan dalam menghadapi lonjakan kebutuhan energimenjelang Idulfitri. Melalui kolaborasi yang kuat antaraberbagai pemangku kepentingan, sektor energi Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan ketahanan sistem energi, serta memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi secara optimal di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Forum ini menghadirkan berbagai tokoh dan praktisi di bidang energi. Hadir sebagai pembicara Ketua Umum ASPEBINDO, Dr Anggawira; Laode Sulaeman (Direktur Jenderal Minyak dan Gas ESDM, Prasetyo), Direktur Pengembangan Usaha PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Mars Ega Legowo, Presiden Direktur PT Pertamina Patra Niaga, Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner, Budi Santoso, Direktur Perencanaan Pengelolaan Sumber Daya Mineral MIND ID, Putut Agung Nugroho, Sr Expert Project, CPM - Direktorat Infrastruktur dan Logistik PT Pertamina Persero dan Tommy Jamail sebagai praktisi energi.