Presiden Prabowo Subianto saat memberikan pidato pembukaan Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia. Foto: BPMI Setpres
Prabowo: Danantara Jadi Jembatan Investasi Strategis RI-Rusia
Muhammad Reyhansyah • 3 September 2026 15:52
Vladivostok: Presiden Prabowo Subianto menyebut Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) dapat menjadi jembatan bagi pasar modal dan tujuan strategis Indonesia dan Rusia.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan pidato pembukaan Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis, 3 September 2026.
Prabowo mengatakan Indonesia telah membentuk Danantara sebagai sovereign wealth fund dengan aset kelolaan mencapai USD1 triliun. Menurut dia, Danantara dapat mempertemukan modal Indonesia dan Rusia untuk mendorong pembiayaan proyek-proyek investasi.
Dia mengatakan, Danantara bersama Russian Direct Investment Fund (RDIF) dapat membawa kerja sama investasi dari tahap identifikasi peluang menuju pembiayaan proyek yang layak secara komersial.
"Danantara dan Russian Direct Investment Fund, RDIF, dapat beralih dari mengidentifikasi peluang menuju pembiayaan proyek-proyek yang layak secara komersial," kata Prabowo.
Prabowo juga mengajak pelaku usaha Rusia untuk memanfaatkan peluang investasi di Indonesia. Dia mendorong perusahaan Rusia tidak hanya berdagang dengan Indonesia, tetapi juga membangun kegiatan produksi di dalam negeri.
"Datanglah ke Indonesia, bekerja sama dengan kami, berproduksi bersama kami. Mari kita membangun industri bersama," ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, kerja sama tersebut dapat diarahkan ke berbagai sektor, mulai dari pangan, energi, hingga industri. Dia menilai Indonesia dan Rusia memiliki keunggulan yang saling melengkapi dan dapat dikembangkan melalui investasi.
Prabowo menekankan bahwa investasi yang dibangun kedua negara harus menghasilkan proyek yang konkret dan layak dibiayai. Karena itu, setiap kesepakatan investasi harus disertai kejelasan mengenai nilai investasi, skema pembiayaan, dan tahapan pelaksanaan.
"Setiap kesepakatan yang diumumkan harus mencantumkan nilainya, pembiayaannya, dan tahapan pelaksanaannya," kata Prabowo.
Hadapi Fragmentasi Keuangan Global
Prabowo kemudian mengaitkan penguatan investasi dan perdagangan dengan kondisi ekonomi global yang semakin terfragmentasi. Menurut dia, perdagangan saat ini semakin sering digunakan sebagai instrumen tekanan, sementara rantai pasok dan sistem keuangan terpecah berdasarkan kepentingan geografis."Saat ini, perdagangan berkali-kali digunakan sebagai senjata. Rantai pasok ditarik kembali karena kecurigaan. Keuangan terpecah berdasarkan geografi," ujar Prabowo.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pembangunan konektivitas dan berbagai "jembatan" ekonomi menjadi semakin penting, termasuk dalam pangan, energi, sains, logistik, dan perdagangan.
Dalam sektor keuangan, Prabowo menilai ketahanan tidak seharusnya dibangun dengan hanya mengandalkan satu sistem. Dia mengatakan perlu tersedia sistem lain yang tetap mampu memfasilitasi arus dana apabila salah satu sistem mengalami gangguan.
"Dalam keuangan global, ketahanan membutuhkan lebih dari satu sistem yang berfungsi. Kita tidak boleh bergantung pada satu arsitektur keuangan," ujar Prabowo.
Dia menegaskan pembangunan sistem keuangan alternatif bukan ditujukan untuk menggantikan sistem yang sudah ada, melainkan memastikan terdapat jalur lain yang dapat berjalan berdampingan untuk menjaga kelangsungan perdagangan internasional.
Prabowo menilai tanpa saluran pembayaran dan jalur pembiayaan yang dapat diandalkan, aktivitas perdagangan dapat terhambat. Karena itu, dia mendorong penguatan berbagai jalur kerja sama ekonomi dan keuangan untuk menjaga kelancaran perdagangan di tengah fragmentasi ekonomi global.