Erupsi Anak Krakatau, Kemenkes Aktifkan Pusat Krisis Kesehatan

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Foto: dok Medcom.id

Erupsi Anak Krakatau, Kemenkes Aktifkan Pusat Krisis Kesehatan

Husen Miftahudin • 6 September 2026 12:09

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengaktifkan Pusat Krisis Kesehatan atau Health Emergency Operating Center (HEOC) di wilayah terdampak sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan Kemenkes juga akan menerbitkan surat edaran sebagai panduan bagi tenaga kesehatan di kabupaten dan kota yang terdampak erupsi.

"Kemenkes sudah mulai mengaktifkan semua health emergency center di seluruh wilayah terdampak. Kita juga akan segera surat edaran untuk memberikan guidance yang rinci terhadap para petugas tenaga kesehatan di seluruh kabupaten/kota yang terdampak," kata Budi dalam konferensi pers terkait situasi dan kondisi pascaerupsi Gunung Anak Krakatau melalui siaran YouTube BNPB Indonesia, Minggu, 6 September 2026.

Selain mengaktifkan pusat krisis kesehatan, Kemenkes akan melakukan komunikasi rutin melalui konferensi video dengan dinas kesehatan di seluruh kabupaten/kota terdampak. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memantau perkembangan kondisi kesehatan di wilayah terdampak erupsi.

"Kita akan segera melakukan komunikasi melalui Zoom rutin antara health emergency center Kemenkes dan dinas kesehatan seluruh kabupaten/kota untuk memonitor perkembangannya seperti apa," ujar Budi.

Budi juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengurangi aktivitas di luar rumah selama wilayahnya terdampak abu vulkanik. "Sekali lagi, jangan panik, stay at home, and stay healthy," tutur dia.
 

 

15 kecamatan terdampak abu vulkanik


Adapun, sebanyak 15 kecamatan di Provinsi Lampung dan Banten terdampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Minggu dini hari, 6 September 2026. Pemerintah memastikan penanganan dampak erupsi terus dilakukan, termasuk dari sisi kesehatan.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan belum ada laporan korban jiwa akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Tadi kami sudah melakukan video conference dengan para kepala pelaksana badan Penanggulangan Bencana Daerah. Semua melaporkan bahwa tidak ada korban jiwa sementara yang dilaporkan," ujar Suharyanto.

Berdasarkan data BNPB, abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak pada 15 kecamatan di Lampung dan Banten. Rinciannya sebagai berikut:
 

Kabupaten Lampung Selatan, Lampung:

  • Punduh Pedada.
  • Rajabasa.
  • Kalianda.
  • Ketapang.
  • Bakauheni.
  • Sidomulyo.
  • Katibung.
 

Kabupaten Pandeglang, Banten:

  • Carita.
  • Labuan.
  • Panimbang.
  • Jiput.
 

Kabupaten Tanggamus, Lampung:

  • Pematang Sawa.
  • Cukuh Balak.
  • Semaka.
  • Kota Agung.

15 Kecamatan Terdampak Abu Anak Krakatau, BNPB: Belum Ada Korban Jiwa

(Gunung Anak Krakatau erupsi dengan menyemburkan abu vulkanik yang diduga sampai ke Kota Bandarlampung. Minggu (6/9/2026). ANTARA/HO-Tangkapan layar)


Suharyanto mengatakan pendataan terhadap dampak fisik erupsi masih berlangsung. Paparan abu vulkanik juga terpantau di sejumlah wilayah.

"Dampak secara fisik ini terus masih dilakukan pendataan. Memang di Provinsi Jakarta, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung ini semuanya terpapar abu vulkanik," jelas Suharyanto.

(Husen Miftahudin)