Ilustrasi Freepik
Konflik Timur Tengah Ganggu Pasokan Energi dan Ekspor di Asia
Muhamad Marup • 18 March 2026 21:10
Jakarta: Konflik Timur Tengah berdampak luas terhadap negara-negara Asia, terutama di sektor energi dan perdagangan. Ketegangan ini turut mengganggu jalur distribusi global, termasuk di Selat Hormuz yang menjadi rute utama pengiriman minyak dunia.
Sekitar 80 persen impor minyak Asia melewati Selat Hormuz. Namun, sejak akhir Februari, jalur tersebut praktis terganggu setelah muncul ancaman serangan terhadap kapal-kapal yang melintas. Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran terkait ketahanan energi di berbagai negara Asia.
Di Nepal, pemerintah mulai menerapkan penjatahan gas memasak. Filipina bahkan mengurangi hari kerja bagi sebagian pegawai pemerintah menjadi empat hari per minggu, serta mengimbau masyarakat menghemat penggunaan listrik.
Sekitar 80 persen impor minyak Asia melewati Selat Hormuz. Namun, sejak akhir Februari, jalur tersebut praktis terganggu setelah muncul ancaman serangan terhadap kapal-kapal yang melintas. Kondisi ini langsung memicu kekhawatiran terkait ketahanan energi di berbagai negara Asia.
Cadangan Energi Terbatas
Sejumlah negara Asia tercatat memiliki cadangan energi yang relatif terbatas. Vietnam misalnya, diperkirakan hanya memiliki cadangan minyak kurang dari 20 hari. Sementara Pakistan dan Indonesia memiliki cadangan sekitar 20 hari.
Di sisi lain, India, Thailand, dan Filipina berada dalam kondisi yang sedikit lebih baik dengan cadangan energi yang diperkirakan cukup hingga dua bulan.
Dikutip dari Al Jazeera, ketergantungan terhadap impor tetap tinggi. Filipina, Thailand, Malaysia, dan Brunei bahkan mengandalkan impor untuk 60 hingga 95 persen kebutuhan minyak mentah mereka.
Dikutip dari Al Jazeera, ketergantungan terhadap impor tetap tinggi. Filipina, Thailand, Malaysia, dan Brunei bahkan mengandalkan impor untuk 60 hingga 95 persen kebutuhan minyak mentah mereka.
Kebijakan Darurat Diterapkan
Melansir dari Time.com, sejumlah negara mulai mengambil langkah darurat. India, misalnya, mengalihkan pasokan gas petroleum cair (LPG) dari sektor industri ke rumah tangga.
Di Nepal, pemerintah mulai menerapkan penjatahan gas memasak. Filipina bahkan mengurangi hari kerja bagi sebagian pegawai pemerintah menjadi empat hari per minggu, serta mengimbau masyarakat menghemat penggunaan listrik.
Sementara itu, Pakistan mengerahkan kapal perang untuk mengawal kapal dagang di kawasan Timur Tengah, serta menerapkan berbagai langkah penghematan energi.
Negara Maju Ikut Terdampak
Beberapa negara lainnya mengambil kebijakan tambahan, seperti Thailand yang membatasi harga solar, Vietnam yang mempertimbangkan pemangkasan tarif impor bahan bakar, serta Indonesia yang berencana meningkatkan subsidi energi.
Negara Maju Ikut Terdampak
Masih dari Time.com, menyebutkan dampak krisis energi ini juga dirasakan negara maju di Asia. Korea Selatan untuk pertama kalinya dalam hampir 30 tahun memberlakukan pembatasan bahan bakar. Jepang juga mulai melepaskan cadangan minyak nasional untuk menjaga stabilitas pasokan.
Beberapa negara lainnya mengambil kebijakan tambahan, seperti Thailand yang membatasi harga solar, Vietnam yang mempertimbangkan pemangkasan tarif impor bahan bakar, serta Indonesia yang berencana meningkatkan subsidi energi.
Selain sektor energi, konflik ini juga berdampak pada aktivitas ekspor Asia. Gangguan di Selat Hormuz membuat pengiriman barang ke kawasan Timur Tengah terhambat, bahkan terhenti.

Ilustrasi Freepik
Ekspor beras Thailand ke Timur Tengah dilaporkan hampir berhenti total. Dua kapal yang membawa sekitar 80.000 ton beras ke Irak terpaksa tertahan di pelabuhan Bangkok.
Hal serupa terjadi di India, di mana ekspor produk pertanian seperti pisang dan beras ke negara-negara Teluk mengalami penurunan drastis. Akibatnya, petani terpaksa menjual hasil panen di pasar lokal dengan harga lebih rendah.

Ilustrasi Freepik
Ekspor beras Thailand ke Timur Tengah dilaporkan hampir berhenti total. Dua kapal yang membawa sekitar 80.000 ton beras ke Irak terpaksa tertahan di pelabuhan Bangkok.
Hal serupa terjadi di India, di mana ekspor produk pertanian seperti pisang dan beras ke negara-negara Teluk mengalami penurunan drastis. Akibatnya, petani terpaksa menjual hasil panen di pasar lokal dengan harga lebih rendah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak regional, tetapi juga memicu efek domino terhadap stabilitas energi dan perdagangan di Asia.
(Jessica Nur Faddilah)
(Jessica Nur Faddilah)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com