Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: Anadolu
Iran Tegaskan Sistem Politik Tetap Kokoh Meski Ali Larijani Gugur
Muhammad Reyhansyah • 19 March 2026 15:59
Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa sistem politik negaranya tetap kuat meskipun sejumlah pejabat tinggi tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Ia menilai tindakan tersebut tidak akan melemahkan struktur negara. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Araghchi menyatakan bahwa Republik Islam Iran memiliki sistem politik yang kokoh dan terlembaga.
“Saya tidak tahu mengapa Amerika dan Israel masih belum memahami hal ini: Republik Islam Iran memiliki struktur politik yang kuat dengan institusi politik, ekonomi, dan sosial yang telah mapan,” ujarnya, dikutip dari Anadolu, Kamis, 19 Maret 2026.
“Kehadiran atau ketiadaan satu individu tidak memengaruhi struktur ini,” tambah Araghchi.
Araghchi mengakui bahwa individu memiliki peran penting dalam sistem pemerintahan, namun menegaskan bahwa kekuatan negara tidak bergantung pada satu sosok tertentu.
“Tentu saja individu berpengaruh, dan setiap orang menjalankan perannya—ada yang lebih baik, ada yang kurang. Namun yang terpenting adalah sistem politik Iran merupakan struktur yang sangat kokoh,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Iran pada Selasa mengonfirmasi bahwa Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, tewas dalam serangan Israel.
Dalam pernyataan resminya, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyebut Larijani tewas bersama putranya, ajudannya Reza Bayat, serta sejumlah rekannya dalam serangan tersebut.
Militer Israel menyatakan bahwa Larijani tewas dalam serangan udara di dekat Teheran pada Senin malam.
Sejak 28 Februari, Israel dan Amerika Serikat terus melancarkan operasi militer bersama terhadap Iran yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.
Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan terhadap pasar global dan sektor penerbangan.