Ziarah makam di kampung Siwarak. (catatanrafkaaditya.wordpress.com)
4 Tradisi Unik Perayaan Isra Mikraj di Indonesia
Riza Aslam Khaeron • 15 January 2026 16:05
Jakarta: Setiap tahunnya, umat Islam di seluruh dunia memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW—sebuah perjalanan spiritual yang penuh makna dan menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Pada tahun ini, Isra Mikraj diperingati pada 16 Januari 2026 yang bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1447 Hijriah.
Isra Mikraj terdiri dari dua peristiwa agung yang terjadi dalam satu malam. "Isra" merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Sementara itu, "Mikraj" adalah perjalanan beliau dari Masjidil Aqsa naik ke langit ketujuh hingga mencapai sidratul muntaha.
Peristiwa ini menjadi salah satu momen paling penting dalam sejarah Islam, karena pada saat itulah Nabi Muhammad SAW menerima perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam. Kejadian ini tidak hanya mempertegas spiritualitas ajaran Islam, tetapi juga memperkuat kewajiban utama dalam kehidupan setiap Muslim.
Dalam perayaan hari istimewa ini, masyarakat Indonesia pada umumnya memiliki beberapa tradisi yang cukup unik. Berikut lima tradisi khas umat Muslim dalam memperingati Isra Mikraj di Tanah Air.
Nyadran Siwarak di Kampung Siwarak
Salah satu tradisi khas dalam memperingati Isra Mikraj di Indonesia adalah Nyadran Siwarak yang digelar masyarakat Kampung Siwarak, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.Tradisi ini rutin diselenggarakan setiap tahun pada hari Ahad Pon di bulan Rajab dan menjadi rangkaian penting dalam menyambut peringatan Isra Mikraj.
Nyadran sendiri berasal dari kata Arab ?odru yang berarti doa, lalu dalam dialek Jawa berkembang menjadi “sadran” dan lazim digunakan untuk menyebut tradisi doa bersama di makam leluhur.
Di Kampung Siwarak, tradisi ini diawali dengan kegiatan membersihkan area pemakaman desa. Setelah itu, warga bersama-sama memanjatkan doa dan tahlil untuk para pendahulu.
Keistimewaan Nyadran Siwarak terletak pada kemasannya yang unik dan meriah. Usai ziarah, warga menggelar karnaval budaya yang diikuti oleh seluruh elemen masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua.
Arak-arakan ini menampilkan berbagai replika simbolik, mulai dari hasil bumi, lesung, kapal, hingga ikon “Warak” yang diyakini menjadi asal-usul nama Kampung Siwarak.
Rajaban di Cirebon
Di wilayah Kesultanan Kanoman Cirebon, peringatan Isra Mikraj diwujudkan dalam tradisi khas bernama Rajaban. Tradisi ini dilaksanakan setiap malam tanggal 27 Rajab di Langgar Alit—kompleks kesultanan—dan telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa kejayaan Kesultanan Islam Cirebon.Acara inti dalam Rajaban adalah pembacaan Babad Isra Mikraj yang disampaikan oleh penghulu keraton dalam bahasa Cirebon lama menggunakan aksara Arab Pegon.
Naskah tersebut menceritakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga ke langit tertinggi, lengkap dengan peristiwa menerima perintah salat dan puasa.
Tradisi ini bukan sekadar mengenang peristiwa besar dalam Islam, tetapi juga menjadi medium pengajaran nilai spiritual dan moral kepada masyarakat.
Rangkaian Rajaban diawali dengan tawasulan, dilanjut pembacaan naskah, lalu ditutup dengan doa bersama. Sebagai simbol kesederhanaan dan syukur, keluarga kesultanan dan warga yang hadir menikmati hidangan Nasi Bogana—tumpeng sederhana yang menyimpan ayam di dalamnya.
Melansir jurnal Naila Farah dari Institut Agama Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon tahun 2018, makna filosofisnya dalam budaya Kanoman adalah ajakan untuk hidup tenang dan tidak terus menerus mengejar duniawi, sebagaimana sifat ayam yang suka mengais tanah.
| Baca Juga: Kumpulan Link Twibbon dan Ucapan Isra Mikraj 2026 |
Nganggung di Bangka Belitung
Tradisi Nganggung merupakan bentuk jamuan makan bersama yang dilaksanakan dalam rangka memperingati hari-hari besar Islam, termasuk Isra Mikraj.Tradisi ini masih dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat di beberapa wilayah di Bangka Belitung, seperti di Kampung Bukit (Toboali) dan Pangkalpinang.
Ciri khas dari tradisi Nganggung adalah setiap keluarga laki-laki membawa dulang—nampan besar penutup tudung saji berisi berbagai jenis makanan—ke masjid.
Dulang-dulang tersebut disusun rapi di dalam masjid, sementara para jamaah duduk bersila di hadapan dulang masing-masing.
Acara dimulai dengan pembacaan doa, salawat nabi, ayat suci Al-Qur’an, dan ceramah agama. Setelah itu, dulang dibuka serentak atas arahan imam masjid, dan seluruh hidangan dinikmati bersama.
Satu hal yang ditekankan dalam tradisi ini adalah tidak boleh ada makanan tersisa; semua harus dihabiskan sebagai bentuk penghormatan atas keberkahan dan kebersamaan.
Ambengan di Desa Wadasmalang
Di Desa Wadasmalang, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, tradisi Ambengan menjadi bagian penting dalam peringatan Isra Mikraj. Tradisi ini merupakan ajang makan bersama seluruh warga dalam satu dusun atau kampung sebagai wujud syukur dan kebersamaan.Ambengan digelar bersamaan dengan pengajian peringatan Isra Mikraj di masjid. Ratusan ambeng—nasi dan lauk dalam wadah besar—dibawa oleh warga dan diletakkan di halaman masjid, kemudian dibagikan kepada siapa saja yang hadir.
Melansir skripsi Nisa Solikhatun dari IAIN Purwokerto tahun 2021, tradisi ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1970-an melalui musyawarah warga menjelang acara Isra Mikraj.
Keunikan Ambengan di Wadasmalang terletak pada ukurannya yang luar biasa besar. Ambeng disusun dalam keranjang bambu berdiameter antara 50 cm hingga 2 meter. Isinya sangat beragam, mulai dari nasi, lauk-pauk, buah, sayur, ayam, bebek, bahkan seekor kambing.
Setiap kepala keluarga biasanya menyiapkan dua ambeng—satu untuk umum dan satu lagi untuk diberikan secara khusus kepada penerima tertentu. Ambeng dibawa ke masjid dengan cara dipanggul atau dipikul, dan persiapannya bisa memakan waktu hingga dua hari.
Tidak jarang warga menabung selama berbulan-bulan demi mengikuti tradisi ini, karena nilai satu ambeng bisa mencapai puluhan juta rupiah.