Asmaul Husna: Al-Basith, Keyakinan bahwa Allah Melapangkan Rezeki dan Jodoh

Ustaz Dennis Lim membahas sifat Allah Al-Basith dalam program Asmaul Husna di Metro TV, mengangkat tema pernikahan sederhana dan keyakinan bahwa Allah Maha Melapangkan rezeki. (Foto: Dok. Metro TV)

Asmaul Husna: Al-Basith, Keyakinan bahwa Allah Melapangkan Rezeki dan Jodoh

Patrick Pinaria • 28 February 2026 21:38

Jakarta: Rezeki dan jodoh kerap menjadi sumber kekhawatiran, terutama ketika pernikahan dianggap harus serba mewah. Dalam program Asmaul Husna di Metro TV, sifat Allah Al-Basith dibahas sebagai pengingat bahwa Allah Maha Melapangkan dan telah mengatur kadar rezeki setiap hamba.

Pembicaraan mengenai Asmaul Husna Al-Basith ini dibahas langsung oleh Ustaz Dennis Lim dalam program tersebut. Ia menegaskan bahwa Allah telah mengatur rezeki setiap hamba, termasuk urusan jodoh dan pernikahan.

Ia mengawali dengan membacakan ayat, "Walaubasatallahu rizqu li'ibadihi labagu fil ardi walakin yunazzilu biqadarimma yashya’ innahu bi’ibadihi khubirun basir."

Menurutnya, Allah Maha Melapangkan, namun tetap menurunkan rezeki sesuai kadar yang Dia kehendaki.

"Jadi aslinya Allah sudah ngaturin rezeki setiap orang. Termasuk jodoh itu rezeki, nikah itu nanti juga akan Allah penuhi juga rezekinya. Tinggal pertanyaannya kita sudah mantesin diri belum supaya pantas dititipin rezeki tersebut dari Allah?" ujarnya.
 

Meluruskan Pandangan tentang Pernikahan

Dalam pembahasan mengenai tren pernikahan yang dianggap harus 'wah' dibanding sekadar sah, ia menekankan bahwa menikah dalam Islam adalah ladang ibadah. 

"Menikah di dalam Islam itu sekali lagi adalah ladang ibadah. Ini ibadah yang terpanjang. Tempat kita mendulang pahala sebanyak-banyaknya," kata dia.

Tujuan utama pernikahan, lanjutnya, bukan kemewahan acara, melainkan sebagai sarana untuk lebih mudah menuju surga Allah. 

"Berarti yang paling sukses yang kayak gimana? Yaitu yang bisa menggandeng tangan istri dan anak-anaknya nyampe ke surganya Allah," ujarnya.
 
Ia juga menjelaskan bahwa walimah memang dianjurkan, sebagaimana kisah Abdurrahman bin Auf yang diminta Nabi mengadakan walimah meski hanya dengan seekor kambing. Namun, esensinya bukan untuk pamer, melainkan sebagai bentuk pengumuman bahwa pernikahan telah berlangsung sesuai syariat.
 

Rezeki Tak Hanya Soal Uang

Ustaz Dennis Lim menegaskan bahwa makna Al-Basith tidak terbatas pada kelapangan materi. 

"Kita kalau bicara Al-Basith, itu enggak cuma rezeki. Karena ada orang yang duitnya banyak nih, tapi hatinya sempit," ujarnya.

Kelapangan hati, kemudahan urusan, dan ketenangan jiwa juga termasuk bagian dari kelapangan yang Allah berikan. Bahkan Nabi Musa pun berdoa agar dilapangkan dadanya sebelum menghadapi Firaun. 

"Mau dakwah, dada perlu lapang. Termasuk mau nikah ini, mesti dilapangkan juga," katanya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya memohon pertolongan Allah dan melakukan istikharah dengan benar. Istikharah, menurutnya, bukan sekadar menunggu mimpi, melainkan memilih dengan pertimbangan terbaik lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Tanda jawabannya dapat terlihat dari apakah urusan tersebut dimudahkan atau justru dipersulit.

"Pokoknya segala keputusan dari Allah itu selalu baik. Tinggal kita melihat dari sudut pandang mana saja," ujarnya.
   

Sederhana dan Sesuai Kemampuan

Terkait budaya pernikahan mewah, ia menekankan pentingnya menyesuaikan dengan kemampuan. 

"Keutamaan menikah sederhana itu apa? Melatih kita, ya. Untuk supaya bisa belajar sederhana. Belajar untuk supaya ya gak harus dikagumi banyak orang," katanya.

Ia mengingatkan agar tidak terjebak pada prinsip "biar tekor asal kesohor" hingga harus berutang bertahun-tahun demi satu hari pesta. 

"Nikahnya sehari semalam, tapi utangnya 10 tahun ke depan buat beresin semua acara di hari itu," ujarnya.

Menurutnya, restu orang tua dan pembahasan mahar atau acara seharusnya bisa dikomunikasikan. Jika dipersulit karena tuntutan kemewahan semata, hal itu bisa menjadi bahan introspeksi. Namun, ia juga menegaskan bahwa jodoh pada akhirnya tetap berada dalam ketentuan Allah.
 

Bekal Utama: Takwa

Dalam menyiapkan pernikahan, ia menekankan pentingnya takwa sebagai bekal utama. "Bekal utamanya takwa aja lah," katanya.

Bagi laki-laki, ia menyebut perlu memiliki kelebihan dalam takwa, ilmu, dan —meski tidak wajib—kemampuan finansial.
 
Ia juga menjelaskan hukum menikah dalam fikih bisa berbeda sesuai kondisi. Ada yang sunnah, bisa menjadi wajib jika dikhawatirkan terjerumus dalam dosa, bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi haram jika seseorang tidak mampu secara lahir dan batin untuk menjalankan tanggung jawabnya.
 

Tenang karena Allah Al-Basith

Menutup pembahasan, Ustaz Dennis Lim menekankan bahwa keyakinan terhadap sifat Al-Basith seharusnya menghadirkan ketenangan. 

"Allah itu Al-Basith. Melapangkan. Maka apa efeknya itu buat hidup kita? Harusnya kita jadi tenang, insyaAllah," ujarnya.

Ia mengingatkan agar tidak lebih takut pada urusan materi dibandingkan kehilangan iman. "Lebih takut enggak punya iman. Lebih takut enggak ada Allah di hati," katanya.

Menurutnya, jodoh sudah Allah jamin. "Karena jodoh kan pasti ketemu, paling cepat ketemu di dunia. Paling lambat ketemu di surga. Kesalahannya, satu. Kita mati ke surga atau enggak. Mendingan sibuk mikirin itu," ujarnya.

Dengan memahami sifat Al-Basith, Ustaz Dennis Lim mengajak agar setiap persoalan—baik jodoh, rezeki, pekerjaan, maupun keluarga—dijadikan jalan untuk semakin dekat kepada Allah. 

"Yang penting jadi jalan tambah dekat sama Allah," tuturnya.


                                                       

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Rosa Anggreati)