Podium MI: Kebangkitan

Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. Foto: MI/Ebet.

Podium MI: Kebangkitan

Abdul Kohar • 19 May 2026 06:14

ADA pertanyaan yang tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menggugat ke dasar kesadaran kita sebagai bangsa, yakni dari mana kebangkitan nasional harus dimulai? Pemikir kebangsaan Yudi Latif membantu menjawabnya dengan satu kata yang kerap kita dengar, tetapi jarang kita hayati, yaitu 'budi'. Tepatnya, budi utama.

Menoleh ke awal abad ke-20, kita mendapati bahwa kebangkitan bukanlah semata letupan politik, melainkan terlebih dahulu pergolakan batin. Lahirnya Budi Utomo bukan peristiwa tunggal. Ia berdampingan dengan Jamiat al Khair, suatu perkumpulan kebajikan budi, dan Tri Koro Dharmo yang mengusung tiga tujuan mulia, yakni sakti, budi, bakti. Di sana, kita melihat fondasi yang sama, bahwa kebangkitan dimulai dari dalam, dari pembentukan manusia yang utuh.

Dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei, pesan itu terasa relevan, bahkan mendesak. Budi pekerti bukan sekadar pelengkap pidato seremonial, melainkan tumpuan utama kemajuan. 'Budi' ialah dunia batin, yang menjelma pikiran, perasaan, dan kemauan. 'Pekerti' ialah dunia lahir, berupa tenaga, daya, tindakan.

Di titik ini, kebangkitan tidak lagi terdengar sebagai slogan kosong. Ia menjadi kerja sunyi yang menuntut ketekunan. Pikiran ialah pelita hidup. Karena itu, sesat pikir, binasa hidup. Etika ialah kendali hidup. Sebab itu, pudar moral, ambruk hidup. Kemauan ialah daya hidup. Karena itu, lemah karsa, kerdil hidup.

Budi pekerti yang baik menyatukan ketiganya. Ia menjahit pikiran yang jernih, perasaan yang halus, dan kemauan yang teguh menjadi satu kekuatan yang mampu melahirkan karya yang, bukan hanya benar, melainkan juga baik dan indah. Pikiran sehat mengawinkan pengetahuan dengan pemahaman. Perasaan sehat merukunkan hati dengan nalar. Kemauan sehat menyelaraskan kehendak dengan etos juang.

Dari sanalah lahir sesuatu yang lebih mendasar, yakni karakter. Karakter ialah lukisan jiwa, cetakan dasar kepribadian yang memantulkan kualitas moral, ketegaran, dan kekhasan potensi seseorang. Ia bukan barang jadi, melainkan hasil dari proses panjang pembudayaan.

Budi Utomo. (Indonesia.go.id)

Seperti individu, bangsa pun memiliki karakter. Otto Bauer pernah mendefinisikan bangsa sebagai persatuan karakter yang tumbuh dari persatuan pengalaman. Artinya, sejarah kita dengan segala luka, harapan, dan perjuangannya sedang terus-menerus memahat watak kolektif kita.

Di sinilah Sukarno mengingatkan, dengan mengutip HG Wells: apa yang menentukan besar kecilnya suatu bangsa? Bukan luas wilayahnya. Bukan pula jumlah penduduknya, melainkan kekuatan tekad, yang tak lain ialah pancaran dari karakter.

Dengan demikian, berbicara kebangkitan nasional tanpa menyentuh budi pekerti ibarat membangun rumah tanpa fondasi. Ia mungkin tampak megah di permukaan, tetapi rapuh di dalam.

Alhasil, jalan kebangkitan tidak bisa ditempuh dengan jalan pintas. Ia harus dimulai dari pembinaan budi pekerti, dari keluarga, sekolah, hingga ruang publik sebagai wahana penanaman karakter. Dari situlah akar-akar kemajuan ditumbuhkan menjadi kukuh, dalam, dan tahan uji. Seperti saat pendirian Budi Utomo pada 1908, yang merupakan percobaan berani dari minoritas kreatif pada zamannya untuk keluar dari keterbelakangan kaum terjajah dengan memperjuangkan kemajuan. Gerakan kemajuan yang dicoba diupayakan lewat pemupukan modal sosial, perbaikan pendidikan, dan pertanian.

Langkah-langkah rintisan itu, lewat persambungannya dengan gerakan-gerakan kebangkitan yang lain, melahirkan gelombang perubahan berskala nasional yang membuka jalan bagi persatuan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia.

Kebangkitan nasional, pada akhirnya, bukan sekadar peristiwa sejarah yang kita kenang setiap Mei. Ia pekerjaan yang tak pernah selesai. Ia pekerjaan untuk terus memanusiakan manusia agar bangsa ini tidak hanya bangkit, tetapi juga bermartabat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)