Warga Papua Pegunungan Diimbau Waspada Musim Hujan

Ilustrasi hujan. (Medcom.id)

Warga Papua Pegunungan Diimbau Waspada Musim Hujan

Silvana Febiari • 3 January 2026 11:16

Wamena: Warga di delapan kabupaten di Papua Pegunungan diimbau untuk mewaspadai musim hujan pada awal tahun 2026. Berdasarkan prakiraan cuaca, wilayah Papua Pegunungan dan sekitarnya saat ini telah memasuki musim hujan.

“Kami dapat menyampaikan saat ini Kabupaten Jayawijaya maupun tujuh kabupaten lain di Papua Pegunungan telah memasuki musim hujan, dan puncaknya (musim hujan) dari hasil prakiraan cuaca akan berlangsung pada bulan ini. Warga kami imbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan sehingga tidak terjadi korban jiwa saat terjadi hujan deras,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena Laura SM Runggeari, dikutip dari Antara, Sabtu, 3 Januari 2026. 

Menurut dia, wilayah Papua Pegunungan masuk zona musim panas maupun hujan. Kedua musim ini diperkirakan akan berlangsung selama dua hingga tiga bulan ke depan.
 


“Papua Pegunungan masuk zona musim, sehingga dari hasil pengamatan cuaca puncak musim hujan akan terjadi pada bulan Desember 2025 hingga Januari-Februari 2026 atau tiga bulan ke depan dengan intensitas sedang hingga lebat,” ujarnya.

Beberapa tahun terakhir, puncak musim hujan biasanya terjadi pada Februari dan Maret. Akibatnya, pada April 2025, Kabupaten Jayawijaya mengalami bencana berupa banjir dan tanah longsor.

“Kami juga telah membuat laporan analisis prakiraan cuaca selama periode satu tahun sejak April hingga November 2025, wilayah Papua Pegunungan banyak mengalami kejadian bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor. Warga harus waspada terhadap perubahan cuaca dua bulan ke depan,” jelas Laura.


Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Wamena Laura SM Runggeari diwawancarai ANTARA di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. ANTARA/Yudhi Efendi.


Laura menambahkan bencana hidrometeorologi yang terjadi di Papua Pegunungan sehingga menyebabkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Bencana tersebut terjadi di Distrik Dal dan Mebarok Kabupaten Nduga pada tahun lalu.

“Faktor dominan yang menyebabkan terjadinya fenomena ini adalah gelombang atmosfer dari skala regional. Akibat kelembaban udara yang tinggi menghasilkan uap air yang cukup banyak sehingga membentuk proses terjadinya awan hujan dan menyebabkan terjadinya hujan deras,” pungkasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)