D-8 Halal Expo Indonesia 2026 mencatat penandatanganan MoU perdagangan rempah dan produk halal serta membahas penguatan ekonomi syariah. (Metrotvnews.com)
Hari Keempat D-8 HEI 2026, Indonesia Perkuat Ekspor Rempah ke Negara D-8
Willy Haryono • 11 July 2026 20:41
Jakarta: Hari keempat penyelenggaraan D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta pada Sabtu, 11 Juli 2026, ditandai dengan penandatanganan sejumlah nota kesepahaman (MoU) yang bertujuan memperkuat perdagangan komoditas halal dan kerja sama industri di antara negara anggota Developing-8 (D-8).
Dua MoU ditandatangani antara pelaku usaha Indonesia dengan mitra dari negara anggota D-8 lainnya untuk perdagangan rempah-rempah, kopra, serta bahan makanan beku.
Berdasarkan siaran pers Kementerian Luar Negeri RI, disebutkan bahwa kerja sama tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok utama komoditas rempah dunia sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas, baik di negara anggota D-8 maupun pasar internasional lainnya.
Selain itu, satu nota kesepahaman lainnya ditandatangani antara pelaku usaha nasional untuk mendukung pengembangan ekosistem industri bahan baku halal dan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.
Di sisi lain, rangkaian HEI Talks pada hari keempat menghadirkan sejumlah diskusi mengenai pengembangan ekonomi syariah, kewirausahaan generasi muda, serta penguatan kerja sama antarnegara anggota D-8.
Memperluas Jaringan Bisnis
Sesi pertama mengangkat tema "Unlocking New Drivers of Development: Talent, Sustainable Innovation, and Faith-based Finance for Shared Prosperity".Diskusi tersebut menghadirkan influencer keuangan syariah Greget Kalla Buana, Ketua Forum Wakaf Produktif Rayan Asa Luminaries, serta Founder Wastehub Ranitya Nurlita.
Para pembicara menyoroti pentingnya peran generasi muda dan bonus demografi di negara-negara D-8 dalam mendorong pembangunan berkelanjutan melalui instrumen zakat, wakaf, dan keuangan berbasis nilai keagamaan.
Sesi kedua bertajuk "Halal Youth and Passion as Entrepreneurs" menghadirkan Ketua Otonom Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Syariah Iman Taufik dan Chief Executive Officer Moria Fund Musab Mazen bin Nuzair.
Keduanya berbagi pengalaman mengenai berbagai bentuk dukungan yang diberikan kepada pengusaha muda agar mampu mengembangkan usaha dan memperluas jaringan bisnis mereka.
Sementara itu, sesi ketiga mengangkat tema "The State of Halal and Sharia Economy in Indonesia: Dari Pasar Terbesar Menuju Pusat Ekonomi Syariah Dunia".
Diskusi tersebut menghadirkan Analyst Assistant Manager KataData Insight Center Hanif Gusman serta Vice Chair Committee of Halal Industrial Ecosystem Development and Halal Products Exports Masyarakat Ekonomi Syariah Indira Damayanti.
Pusat Ekonomi Syariah Dunia
Para narasumber membahas potensi besar Indonesia untuk menjadi salah satu pusat ekonomi syariah dunia dengan memanfaatkan kekuatan pasar domestik serta dukungan kebijakan pemerintah.Namun, mereka juga menyoroti berbagai tantangan, termasuk proses sertifikasi halal dan pentingnya memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Pada sesi terakhir, HEI Talks mengangkat tema "D-8 in a Changing Global Order: Strengthening Cooperation for a Resilient Future".
Diskusi menghadirkan Duta Besar Turki untuk Indonesia Prof. Dr. Talip Küçükcan, Direktur Sosial Budaya dan Kemitraan Strategis Kementerian Luar Negeri Ary Aprianto, serta Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Internasional Indonesia Philips J. Vermonte.
Para pembicara menyoroti pentingnya memperkuat kerja sama D-8 di tengah perubahan tatanan global serta perlunya melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan untuk memperluas cakupan kolaborasi antarnegara anggota.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, D-8 HEI 2026 diharapkan dapat menjadi katalisator bagi penguatan perdagangan halal, investasi, serta integrasi ekonomi syariah di antara negara-negara anggota D-8.
Baca juga: BPJPH Usulkan Satu Logo dan Standar Halal Global Seperti 'ISO'