Selat Hormuz Ditutup, IEA Pangkas Proyeksi Minyak 2026

Selat Hormuz. Foto: Tehran Times.

Selat Hormuz Ditutup, IEA Pangkas Proyeksi Minyak 2026

Husen Miftahudin • 13 August 2026 14:25

Paris: The International Energy Agency (IEA) memangkas proyeksi permintaan minyak global pada 2026. Penurunan proyeksi tersebut dipengaruhi penutupan Selat Hormuz yang masih berlangsung serta tingginya harga bahan bakar yang menekan konsumsi.
 
Dalam laporan pasar minyak edisi Agustus yang dirilis pada Rabu, 12 Agustus 2026, IEA memperkirakan permintaan minyak global tumbuh sebesar 1,6 juta barel per hari (bph) pada 2026. Proyeksi tersebut lebih rendah 510 ribu bph dibandingkan perkiraan dalam laporan Juli.
 
Mengutip Xinhua, pasokan minyak meningkat sebesar 2,4 juta barel per hari menjadi 101.5 juta barel per hari pada Juli. Namun, angka tersebut masih 6,3 juta barel per hari di bawah level pada periode yang sama tahun sebelumnya.
 
Selain itu, konflik yang kembali memanas dan gangguan maritim pada Juli turut menghambat upaya pemulihan pasokan dan mendorong IEA untuk memangkas proyeksi pasokan minyak pada kuartal ketiga sebesar 1,7 juta barel per hari dibandingkan laporan proyeksi sebelumnya.
 



(Ilustrasi. Foto: Freepik)
 

Produksi minyak Teluk mulai pulih

 
Produksi minyak di kawasan Teluk meningkat 2,5 juta bph pada Juli menjadi 23,9 juta bph. Kenaikan tersebut melanjutkan pertumbuhan produksi sebesar 3,7 juta bph pada Juni. Namun, tingkat produksi tersebut masih 8,3 juta bph di bawah level sebelum perang.
 
IEA juga mencatat harga minyak acuan melonjak ke level tertinggi dalam dua bulan pada Juli. Kenaikan harga terjadi ketika pemulihan pasokan minyak dari kawasan Teluk kembali terganggu setelah kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat (AS) gagal tercapai pada pertengahan Juni.
 
IEA menilai tingginya harga bahan bakar turut memberikan tekanan terhadap konsumsi minyak global. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong lembaga tersebut menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak pada 2026.
 
Perkembangan pasokan, gangguan distribusi, serta pergerakan harga minyak menjadi faktor penting dalam proyeksi pasar minyak global yang disampaikan IEA dalam laporan edisi Agustus. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Husen Miftahudin)