Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Fluktuatif, Brent Sempat Menyentuh USD90 per Barel
Eko Nordiansyah • 13 August 2026 08:27
Houston: Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada Rabu, 12 Agustus 2026, di tengah ketidakpastian terkait kondisi Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent sempat menembus USD90 per barel sebelum kembali melemah.
Dikutip dari Investing, Kamis, 13 Agustus 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober turun 0,6 persen menjadi USD88,38 per barel setelah sempat menyentuh USD90,06 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September turun 0,7% menjadi USD82,63 per barel.
Ketegangan AS-Iran tekan harga minyak
Pergerakan harga minyak masih dipengaruhi ketidakpastian mengenai status Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan energi global. Amerika Serikat (AS) dan Iran masih menyampaikan klaim berbeda terkait kondisi jalur tersebut.Presiden AS Donald Trump menyatakan melalui platform Truth Social, AS memegang kendali penuh atas Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran menegaskan selat tersebut tidak akan dibuka kembali sebelum AS memenuhi sejumlah tuntutan, termasuk menghentikan permusuhan dan mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan.
"Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai AS mengubah perilakunya dan menerima syarat-syarat Iran," ujar Kepala Dewan Keamanan Iran Mohsen Rezaei, sebagaimana dikutip media pemerintah Iran.
.jpg)
(Ilustrasi harga minyak. Foto: Dok ICDX)
Otoritas Selat Teluk Persia juga menyatakan klaim AS mengenai berakhirnya blokade tidak mengubah kondisi di lapangan. Selat Hormuz disebut masih diblokade hingga tuntutan Iran dipenuhi.
Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar tetap mencermati potensi gangguan terhadap pasokan energi global, meski perkembangan diplomatik antara kedua negara masih menjadi perhatian.
IEA pangkas proyeksi permintaan minyak
Di tengah kondisi tersebut, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan dampak konflik terhadap permintaan minyak dunia akan lebih besar dari perkiraan sebelumnya.IEA memproyeksikan permintaan minyak global pada 2026 turun 1,6 juta barel per hari. Angka tersebut 510 ribu barel per hari lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Permintaan minyak global diperkirakan kembali meningkat 2,4 juta barel per hari pada 2027.
IEA juga memperkirakan produksi minyak sebesar 8,3 juta barel per hari dari kawasan Teluk masih terhenti. Akibatnya, pasokan minyak global diproyeksikan turun rata-rata 4,3 juta barel per hari pada 2026 sebelum meningkat 8,3 juta barel per hari pada tahun berikutnya.
Berbeda dengan IEA, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memperkirakan dampak konflik terhadap permintaan minyak tidak sebesar proyeksi IEA dan Badan Informasi Energi AS (EIA).
Dalam laporan bulanannya, OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global pada 2026 menjadi 600 ribu barel per hari dari sebelumnya 800 ribu barel per hari.
OPEC juga mencatat operasi kilang global mulai pulih seiring berakhirnya periode pemeliharaan musiman. Namun, aktivitas kilang masih berada di bawah tekanan akibat gangguan di Eropa Timur dan Timur Tengah serta tingginya kegiatan pemeliharaan di Asia, terutama Tiongkok.