Gunung Everest. Foto: Dok Pixabay.
Alasan Jenazah di Gunung Everest Awet Hingga Puluhan Tahun, Simak Penjelasannya
Arga Sumantri • 12 August 2026 15:01
Jakarta: Jasad pendaki asal India yang membeku selama hampir tiga dekade di Gunung Everest akan diupayakan dipulangkan kepada keluarganya. Pendaki yang diduga bernama Dorje Morup itu diyakini sebagai sosok 'Green Boots', julukan bagi jenazah yang dikenal dari sepatu hijau terang di Gunung Everest pada ketinggian sekitar 8.500 meter.
Morup tewas setelah timnya diterjang badai saat turun dari puncak Everest pada 1996. Identitasnya baru diduga terungkap tahun ini berdasarkan kesaksian pendaki yang selamat dan lokasi komunikasi terakhirnya.
Istrinya, Konchak Yangskit, yang kini berusia sekitar 75 tahun, disebut tidak pernah berhenti berharap suaminya dapat kembali. Jika identitas Morup dikonfirmasi melalui tes DNA, jenazahnya akan dibawa pulang untuk dimakamkan di Leh, India.
Meski telah berada di Everest selama puluhan tahun, jenazah Morup tidak mengalami pembusukan seperti pada kondisi normal. Suhu yang sangat rendah dan udara kering di ketinggian ekstrem membuat proses pembusukan berlangsung jauh lebih lambat.
Lantas, bagaimana kondisi ekstrem Everest dapat membuat jenazah bertahan selama puluhan tahun?
Suhu Ekstrem Bikin Jenazah Awet
Dilansir dari Glorious Eco Trek Nepal, pembusukan tubuh setelah kematian umumnya melibatkan bakteri dan serangga yang menguraikan jaringan tubuh. Namun, kondisi di ketinggian Everest sangat berbeda karena suhu yang sangat rendah membuat mikroorganisme sulit bertahan dan berkembang.Pada ketinggian di atas 6.000 meter, suhu di Everest jarang berada di atas titik beku, terutama di kawasan dekat puncak. Udara yang sangat kering juga membuat tubuh kehilangan banyak cairan sehingga kondisi dingin dan kering tersebut bekerja seperti freezer alami.
Kondisi inilah yang membuat sejumlah jenazah di Everest tetap dapat dikenali meski telah berada di sana selama puluhan tahun. Jenazah Morup menjadi salah satu contohnya dan kini tengah diupayakan untuk dievakuasi dari kawasan berbahaya tersebut.

Pendaki di Gunung Everest. Foto: Dok Freepik.
Mengapa Banyak Jenazah Masih Berada di Everest?
Menurut data Himalayan Database, lebih dari 340 pendaki telah meninggal di lereng Everest. Sebagian jenazah masih berada di gunung karena proses evakuasi membutuhkan tenaga, peralatan khusus, serta menghadapi risiko besar bagi tim penyelamat.Sebagian besar kematian terjadi di death zone, wilayah dengan ketinggian di atas 8.000 meter. Di kawasan ini, kadar oksigen hanya sekitar sepertiga dibandingkan permukaan laut sehingga tubuh manusia semakin sulit berfungsi secara normal.
Kondisi tersebut juga membuat proses evakuasi jenazah tidak mudah. Suhu dapat turun hingga sekitar minus 40 derajat celsius, ditambah kadar oksigen yang rendah, medan terjal, dan cuaca yang dapat berubah dengan cepat.
Mengutip Eco Holidays Nepal, berikut sejumlah faktor yang dapat menyebabkan pendaki meninggal di kawasan Everest:
- Ketinggian ekstrem dan kekurangan oksigen
- Penyakit akibat ketinggian, termasuk HAPE dan HACE
- Cuaca ekstrem dan badai salju
- Kelelahan dan kondisi fisik yang menurun
- Longsoran salju dan runtuhan es
- Terjatuh atau terpeleset di medan terjal
- Kehabisan oksigen tambahan
- Kurangnya pengalaman atau persiapan menghadapi kondisi gunung
(Angel Rinella)