Kondisi salah satu bukit dalam kondisi kering di perbatasan Margaasih, Kabupaten Bandung, dengan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat. ANTARA/Ilham Nugraha.
Eksploitasi Tanah Berlebih, Pakar ITB Peringatkan Ancaman Krisis Air Bersih di Cimahi
Whisnu Mardiansyah • 17 June 2026 19:16
Cimahi: Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas, mengingatkan ancaman krisis air bersih di Kota Cimahi semakin nyata. Eksploitasi air tanah yang berlangsung masif di tengah prediksi musim kemarau yang lebih panjang tahun ini menjadi penyebab utama.
"Kita tidak sadar telah melakukan eksploitasi air tanah, apalagi buktinya sudah ada di depan mata. Air tanah tiba-tiba kering, semakin parah kalau kemarau. Kita mesti khawatir, prediksinya kan di 2050 kekeringan ekstrem akan terjadi," kata Heri Andreas di Cimahi, seperti dilansir Antara, Rabu, 17 Juni 2026.
Menurut Heri, wilayah Kecamatan Cimahi Selatan menjadi kawasan paling rentan mengalami kekeringan. Sejumlah kelurahan di wilayah tersebut sudah rutin mengalami kesulitan memperoleh air bersih setiap musim kemarau.
Kelurahan Utama, Melong, dan Leuwigajah menjadi daerah yang paling terdampak. Warga di wilayah tersebut bahkan harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Di luar musim kemarau saja, masyarakat di Cimahi Selatan itu ada yang kekeringan. Mereka harus beli air, di musim kemarau itu juga rutin disuplai tangki air bersih," ujarnya.
Heri mengungkapkan eksploitasi air tanah yang dilakukan berbagai pihak selama bertahun-tahun telah menyebabkan cadangan air terus mengalami penurunan di wilayah Bandung Raya. Berdasarkan kajian Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGL) Badan Geologi, penurunan muka air tanah di wilayah Bandung Raya mencapai sekitar 60 meter hingga 100 meter.
Ia menjelaskan akuifer atau lapisan penyimpan air pada kedalaman 50 hingga 100 meter telah mengalami kerusakan. Lapisan lebih dalam pun mulai terdampak akibat eksploitasi yang terus berlanjut.
"Kemudian nanti ngebor lagi sampai di kedalaman 200 meter, nanti rusak lagi karena mencari air di titik yang lebih dalam. Kondisi itu kalau diteruskan, menyebabkan krisis air di 2050 itu tadi," katanya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi mencatat sedikitnya 312 RW berpotensi mengalami kekeringan. Data ini berdasarkan kajian kebencanaan serta koordinasi terkait prediksi puncak musim kemarau yang dimulai pada Agustus mendatang.

Ilustrasi-Bantuan air bersih. MI/Akhmad Safuan
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menyatakan wilayah Cimahi Selatan masih menjadi daerah dengan dampak kekeringan paling parah dibandingkan kawasan lainnya.
"Kekeringan terparah yang kita catat itu dua tahun lalu. Kemudian paling parah ada di daerah selatan, memang karena warga mengandalkan air PDAM dan sebagian air tanah," ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD menyiapkan skema penyaluran air bersih melalui koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Cimahi serta Perumda Tirta Raharja. Operasi penyaluran air akan dilakukan apabila terdapat laporan kekurangan air bersih dari masyarakat.
"Akan ada operasi sesuai kondisi, misalnya apabila ada laporan kekurangan air bersih kita akan koordinasi dengan pihak terkait seperti DPKP untuk memasok air bersih," kata Fithriandy.