Rabies Bisa Fatal, Kenali Gejala dan Langkah Penanganannya

Ilustrasi. Foto: Magnific.

Rabies Bisa Fatal, Kenali Gejala dan Langkah Penanganannya

Ade Hapsari Lestarini • 14 September 2026 08:50

Yogyakarta: Menjelang World Rabies Day pada 28 September, masyarakat diminta mengenali risiko rabies dan segera mendapatkan penanganan medis setelah mengalami gigitan atau cakaran hewan yang berpotensi menularkan penyakit tersebut.

Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V, Mirjawal, mengatakan tindakan cepat setelah paparan menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah risiko rabies. Hal tersebut disampaikan Mirjawal di sela-sela Vetnovex 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, 12-13 September 2026.

Menurut Mirjawal, pengendalian rabies membutuhkan keterhubungan antara kesehatan hewan dan kesehatan manusia. Upaya tersebut melibatkan dokter hewan, tenaga kesehatan, pemerintah, laboratorium, perguruan tinggi, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat.

"Ketika satu mata rantai tidak berfungsi, mulai dari vaksinasi, pelaporan kasus, diagnosis, hingga penanganan korban gigitan, akibatnya dapat sangat serius," kata Mirjawal, dikutip Senin, 14 September 2026.
 

Cuci luka dengan air mengalir selama 15 menit


Rabies merupakan penyakit yang dapat dicegah, tetapi hampir selalu berakibat fatal setelah gejala klinis muncul. Karena itu, masyarakat disarankan tidak menunda penanganan setelah digigit atau dicakar anjing, kucing, monyet, maupun hewan lain yang berpotensi menularkan rabies.

Setelah terkena gigitan atau cakaran, luka perlu segera dicuci menggunakan sabun dan air mengalir selama sedikitnya 15 menit, kemudian diberi antiseptik. Korban selanjutnya perlu mendatangi puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan penilaian medis dan penanganan lebih lanjut, termasuk pemberian vaksin antirabies sesuai indikasi.

"Jangan menunggu luka terasa sakit atau muncul gejala. Segera cuci luka dan datang ke fasilitas kesehatan. Penanganan yang cepat dapat menyelamatkan nyawa," ujar dia.


Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Barat V, Mirjawal (tengah). Foto: dok Istimewa.
 

Kenali perubahan perilaku hewan


Hewan yang terinfeksi rabies dapat mengalami perubahan perilaku secara tiba-tiba. Gejalanya antara lain menjadi agresif tanpa sebab, mengeluarkan air liur berlebihan, sulit menelan, berjalan sempoyongan, atau mengalami kelumpuhan.

Namun, tidak semua hewan terduga rabies menunjukkan perilaku agresif. Sebagian dapat menjadi sangat diam, bersembunyi, atau terlihat lemah.

Masyarakat diminta tidak menangkap atau menangani sendiri hewan yang dicurigai terinfeksi rabies. Anak-anak dan hewan lain perlu dijauhkan dari lokasi, kemudian kejadian tersebut dilaporkan kepada dinas yang membidangi kesehatan hewan atau petugas berwenang. Kepastian mengenai rabies pada hewan tetap membutuhkan pemeriksaan oleh petugas.

Mirjawal mengatakan peringatan World Rabies Day perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan vaksinasi hewan penular rabies, edukasi masyarakat, surveilans, layanan kesehatan, dan sistem pelaporan kasus.

Pada September 2026, PDHI Cabang Jawa Barat V juga menghadirkan program vaksinasi rabies gratis bagi masyarakat di Bekasi. Informasi mengenai pelaksanaan program tersebut tersedia melalui akun Instagram @pdhi.jabar5.

"Pengendalian rabies harus diwujudkan melalui tindakan yang langsung dirasakan masyarakat. Vaksinasi melindungi hewan sekaligus menjaga keluarga dan lingkungan di sekitarnya," kata Mirjawal.

Ia menilai data kasus gigitan, status vaksinasi hewan, hasil pemeriksaan laboratorium, dan kasus rabies pada manusia perlu terhubung untuk membantu menentukan wilayah yang memiliki risiko lebih tinggi.

"Pengendalian rabies menjadi ujian nyata bagi ekosistem veteriner Indonesia. Melalui edukasi, vaksinasi, pelaporan cepat, dan kolaborasi lintas sektor, kita dapat melindungi hewan sekaligus menyelamatkan manusia," jelas Mirjawal.

(Ade Hapsari Lestarini)