Wali Kota New York Zohran Mamdani layani komunitas sebagai perayaan serangan 9/11. Foto: The New York Times
Hadapi Islamofobia, Mamdani Tetap Fokus pada Korban 9/11
Fajar Nugraha • 12 September 2026 06:30
New York: Tiga hari sebelum peringatan 25 tahun peristiwa 11 September, para politisi konservatif berdiri bersama kerabat korban di tangga Balai Kota untuk menegaskan kembali tuntutan mereka agar Wali Kota New York Zohran Mamdani tidak berpartisipasi dalam upacara resmi Jumat 11 September 2026 yang mengenang tragedi tersebut.
Namun kenyataannya, Mamdani telah memperingati peristiwa tersebut selama berminggu-minggu.
Ia bertemu dengan petugas pemadam kebakaran di pos-pos yang mengalami kehilangan besar pada hari itu, termasuk Ladder 118 di Brooklyn serta Engine 24 dan Ladder 5 di SoHo. Ia mengunjungi Rumah Sakit Bellevue untuk berbicara dengan para penyintas serangan, keluarga korban, dan pasien yang menderita komplikasi kesehatan berkelanjutan akibat peristiwa tersebut.
Pekan lalu, ia mengeluarkan perintah eksekutif yang secara resmi memberikan penghormatan kepada para korban dan keluarga mereka, serta memberi wewenang kepada instansi kota untuk merespons keadaan darurat mendadak dengan lebih baik. Pada Selasa 8 September 2026, ia merilis sejumlah besar dokumen mengenai kualitas udara di dekat Ground Zero pada bulan-bulan setelah serangan terjadi.
Mereka mendengarkan dengan khidmat saat anggota keluarga membacakan nama-nama dari hampir 3.000 orang terkasih yang tewas dalam serangan di New York, Pentagon, dan sebuah lapangan di Shanksville, Pennsylvania.

Perayaan 25 peringatan serangan 9/11 di New York. Foto: The New York Post
Sebagai wali kota Muslim pertama di New York, Mamdani harus menghadapi dinamika yang pelik. Ia harus berbicara mengenai peristiwa 11 September dalam kapasitasnya sebagai pejabat tinggi kota yang terpilih, namun juga sebagai anggota kelompok agama yang menghadapi permusuhan dan kecurigaan sejak serangan tersebut, serta masih terus dipojokkan oleh faksi sayap kanan Partai Republik.
"Sudah 25 tahun berlalu, dan menurut saya Amerika kini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang umat Muslim," ujar Husein Yatabarry, direktur eksekutif Muslim Community Network, seperti dikutip The New York Times, Sabtu 12 September 2026.
"Mereka kini bisa menerima umat Muslim yang memegang jabatan penting maupun jabatan hasil pemilihan umum, dan tidak lagi memandang mereka sebagai sosok yang menakutkan,” imbuhnya.
"Namun, ada kegelisahan di kalangan sayap kanan yang ingin membangkitkan kembali tingkat Islamofobia terhadap tokoh Muslim terkemuka, baik dalam dunia politik maupun kehidupan sehari-hari,” Yatabarry menambahkan.
Mamdani telah mengalaminya secara langsung. Selama bulan Ramadan pada bulan Maret lalu, Senator Tommy Tuberville—politisi Partai Republik dari Alabama—menggunakan media sosial untuk menyebarkan kembali gambar yang disandingkan antara acara buka puasa bersama sang wali kota dan peristiwa terbakarnya Menara Kembar (Twin Towers).
Ia menambahkan keterangan foto bertuliskan, "Musuh sudah berada di dalam gerbang." Di New York, Bruce Blakeman—kepala eksekutif Nassau County sekaligus kandidat gubernur dari Partai Republik yang kehilangan keponakannya dalam peristiwa 11 September—menyebut tindakan wali kota tersebut sebagai sikap yang "tidak mencerminkan nilai-nilai Amerika."
"Dia memiliki pandangan yang sama dengan orang-orang yang membunuh keponakan saya dan semua orang lainnya itu," ujar Blakeman dalam sebuah wawancara.
Dalam beberapa minggu terakhir, keluarga para korban tewas dalam serangan tersebut mengedarkan petisi di Change.org yang menyatakan bahwa kehadiran wali kota akan mengalihkan perhatian dari acara peringatan yang penuh duka itu. Hingga saat ini, petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 96.000 tanda tangan.
Rasa keberatan itu tampak jelas pada hari Rabu di sebuah pos pemadam kebakaran di kawasan SoHo, tempat 11 petugas pemadam kebakaran gugur dalam peristiwa 11 September. Craig Monahan, seorang pensiunan petugas pemadam kebakaran berusia 60 tahun yang turut menangani dampak serangan di Ground Zero, tidak berada di lokasi saat Mamdani berkunjung. Namun, ia mengatakan bahwa dirinya dan kerabat para petugas pemadam kebakaran yang gugur itu "tidak menginginkan kehadirannya di sini." Mamdani, yang menolak permintaan wawancara untuk artikel ini, berupaya menjaga agar fokus peringatan ke-25 tahun peristiwa tersebut tetap tertuju pada para penyintas, keluarga korban, dan petugas medis yang menangani dampak serangan.
"Peringatan ke-25 serangan teror 11 September bukan tentang politisi," ujar Anna Bahr, juru bicara wali kota.
Para staf Mamdani telah merancang dengan cermat agenda kehadiran wali kota terkait peristiwa 11 September, namun mereka menyebut bahwa gagasan untuk tidak mengalihkan sorotan kepada dirinya sendiri itu berasal dari keinginan beliau pribadi. Menurut para stafnya, beliau ingin menghindari gangguan berupa keharusan untuk terus-menerus menanggapi kritik dari pihak-pihak seperti mantan Wali Kota Rudy Giuliani.
Kunjungan wali kota ke berbagai pos pemadam kebakaran berlangsung singkat, yakni sekitar 30 menit. Menurut seseorang yang kerap mendampingi wali kota dalam berbagai kesempatan, Mamdani biasanya tidak banyak berbicara. Sebaliknya, beliau tampak lebih berfokus mendengarkan pengalaman para petugas penyelamat dan penyintas.
Dalam sebuah acara pada hari Rabu, saat wali kota bergabung dengan para sukarelawan untuk mengemas paket makanan sebagai bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat dalam rangka peringatan 11 September, Mamdani menyebut serangan teroris tersebut sebagai hari paling kelam dalam sejarah kota, namun juga hari di mana "kita melihat ribuan warga New York menunjukkan kepada kita arti mencintai kota ini."
Beberapa jam kemudian, saat Kepolisian meresmikan dinding peringatan 11 September, wali kota menceritakan kisah John William Perry, seorang petugas yang saat itu sedang berada di Markas Besar Kepolisian di Lower Manhattan untuk mengurus berkas pensiunnya. Setelah mendengar kabar mengenai serangan tersebut, ia meminta kembali lencananya.
"Setiap petugas yang hadir pada hari itu mencerminkan semboyan NYPD bahwa tugas untuk melindungi bukanlah pekerjaan yang bisa ditinggalkan begitu saja saat jam kerja usai," ujar wali kota Mamdani dalam upacara tersebut, "melainkan sebuah panggilan yang dijalani hingga akhir hayat."
Pada Jumat, Mamdani juga menghadiri acara peletakan karangan bunga untuk mengenang jasa Dinas Pemadam Kebakaran New York, Amerika Serikat serta ibadah lintas agama di Gereja Ortodoks Yunani St. Nicholas di dekat Ground Zero. Ia tetap berada di lokasi upacara peringatan hingga seluruh nama korban selesai dibacakan.
Wali kota juga merilis sebuah video yang menyatakan bahwa peringatan ini menghadirkan "kewajiban suci" untuk menghormati mereka "yang direnggut dari kita" dengan cara saling peduli satu sama lain.
Bukan hal yang aneh bagi wali kota New York untuk menghadiri serangkaian acara peringatan 11 September yang padat. Mantan Wali Koto Rudy Giuliani pernah menghadiri hingga lima pemakaman dalam sehari tepat setelah serangan terjadi dan sering mengunjungi Ground Zero.
Penerus Giuliani, Michael R. Bloomberg, memimpin pembangunan kembali Lower Manhattan dan turut mengembangkan lokasi yang kini menjadi 9/11 Memorial & Museum. Pada tahun 2020, Bapak de Blasio memberikan penghormatan kepada para korban di tengah banyaknya kematian akibat pandemi Covid-19.
Namun bagi Mamdani, identitas gandanya sebagai wali kota muda sekaligus seorang Muslim membawa tekanan dan sorotan tambahan. Ia berusia 9 tahun saat serangan itu terjadi dan baru dua tahun tinggal di Amerika Serikat setelah pindah bersama keluarganya dari Uganda. Ia menyebut hari itu sebagai tragedi mengerikan bagi seluruh rakyat Amerika, sekaligus momen ketika seorang Muslim seperti dirinya secara resmi dicap sebagai "pihak luar" atau "yang berbeda."
Pendeta Brian Jordan, yang memimpin ibadah di Ground Zero selama berbulan-bulan setelah serangan, mengatakan, "Kita semua menderita akibat peristiwa 9/11."
"Ini bukan hanya untuk umat Katolik, Protestan, atau Yahudi saja," lanjut Jordan.
"Ada juga Muslim yang tewas dalam peristiwa 9/11, dan orang-orang cenderung melupakan hal itu. Zohran Mamdani bukanlah penyebab serangan mengerikan ini,” ujar Jordan.
Jajak pendapat terkini menunjukkan bahwa warga New York tidak menganggap kehadiran wali kota dalam upacara hari Jumat itu sebagai sesuatu yang tidak pantas. Sebuah survei bulan September dari Suffolk University mendapati bahwa hampir 74 persen warga New York berpendapat ia sebaiknya hadir sebagai perwakilan resmi kota tersebut.
Bagi para pendukung sang wali kota, rekam jejak pemilihannya menjadi bukti bahwa dukungan baginya lebih besar daripada kekuatan yang ingin menghalanginya untuk berpartisipasi penuh dalam peringatan hari tersebut.
"Wali kota berhasil meraih suara dari satu juta orang—yang sebagian besarnya bukan Muslim," ujar Ali Najmi, pendukung lama sang wali kota yang juga memimpin dewan penasihat bidang peradilan.
"Islamofobia tidak menang di New York,” pungkas Najmi.