Pengelolaan sumber daya air. Foto: Istimewa
Hadapi Kekeringan, Pengelolaan Sumber Daya Air Mesti Lebih Adaptif
M Sholahadhin Azhar • 18 September 2026 13:43
Jakarta: Kekeringan di Indonesia menjadi hal serius yang perlu diperhatikan seluruh pihak. Pengelolaan sumber daya air mesti lebih adaptif menghadapi hal tersebut. Sehingga, pasokan air bersih dapat terus dioptimalisasi.
“Karena itu, kami terus berupaya menurunkan penggunaan air permukaan dengan memanfaatkan sumber air alternatif seperti pemanenan air hujan, penggunaan recycled water, serta penggunaan teknologi yang membantu mengoptimalkan distribusi air ke fasilitas produksi agar lebih efisien,” kata Direktur Operasi Solusi Bangun Indonesia, Edi Sarwono, dalam keterangan tertulis, Jumat, 18 September 2026.
Upaya tersebut tercermin pada penggunaan air di seluruh area operasi. Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, total pengambilan air baku turun dari 2.252 megaliter pada 2024 menjadi 2.132 megaliter pada 2025.
Dengan komposisi pengambilan air permukaan berkurang sekitar 18% dari 841 megaliter pada 2024 menjadi 688 megaliter pada 2025. Penggunaan air tanah turun sekitar 11% dari 487 megaliter menjadi 432 megaliter, sementara volume air hujan yang ditampung meningkat sekitar 9% dari 676 megaliter menjadi 734 megaliter.
Pemanfaatan recycled water juga terus ditingkatkan. Pada 2025, kegiatan produksi semen di keempat pabrik Solusi Bangun Indonesia memanfaatkan 563 megaliter recycled water dari proses produksi, angka ini setara dengan 31,7% dari total pengambilan air serta meningkat 24% dari tahun sebelumnya.

Ilustrasi air bersih. Foto: Istimewa
Solusi Bangun Indonesia menerapkan berbagai pendekatan sesuai dengan karakteristik masing-masing fasilitas produksi. Di Pabrik Cilacap, Jawa Tengah, air hujan yang tertampung di settling pond dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan produksi. Melalui inisiatif tersebut, Pabrik Cilacap mencatat pengurangan 37% penggunaan air baku pada tahun 2025 dibandingkan baseline 2019.
Menurut Edi Sarwono, berbagai inisiatif tersebut merupakan bagian dari upaya pihaknya untuk mengoptimalkan penggunaan air melalui efisiensi, penggunaan kembali, dan pemanfaatan sumber alternatif.
“Ketahanan menghadapi perubahan iklim dibangun dari keputusan yang kita ambil hari ini. Setiap upaya untuk menggunakan kembali air, memanfaatkan sumber alternatif, dan mengurangi kehilangan air membantu menjaga ketersediaannya bagi operasi, lingkungan, maupun masyarakat,” tutup Edi Sarwono.