Penyelamatan orangutan jantan di Desa Menamang Kanan, Kabupaten Kutai Kartanegara, dengan kondisi sangat kurus berbobot hanya berkisar 25 hingga 30 kilogram dari ukuran normal. ANTARA/HO-BKSDA Kaltim
BKSDA Kaltim Evakuasi Orang Utan dalam Kondisi Kritis Akibat Kekeringan
Whisnu Mardiansyah • 17 September 2026 17:05
Samarinda: Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur menyelamatkan seekor orang utan jantan yang terisolasi di area perkebunan Desa Menamang Kanan, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Orang utan berusia sekitar 20 tahun tersebut ditemukan dalam kondisi kurus dan lunglai. Penyelamatan dilakukan setelah petugas menerima laporan mengenai kemunculan satwa dilindungi di area kerja perusahaan.
“Penyelamatan orangutan berusia 20 tahun ini kami lakukan setelah menerima laporan darurat terkait kemunculan satwa di area kerja perusahaan,” kata Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto di Samarinda, seperti dilansir Antara, Kamis, 17 September 2026.
Laporan pertama diterima petugas Call Center BKSDA Kaltim pada Minggu, 13 September 2026. Kondisi fisik orangutan yang semakin memprihatinkan membuat tim penyelamat segera bergerak menuju lokasi di Kecamatan Muara Kaman.
“Tim Wildlife Rescue Unit BKSDA Kaltim bersama mitra Conservation Action Network (CAN) dan manajemen perusahaan merespons laporan tersebut pada Senin (14 September),” ujar Ari.
Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati karena kawasan produksi PT SHJ mengalami kekeringan cukup parah. Aliran sungai di sekitar habitat alami orangutan dilaporkan mengering total. Kondisi tersebut berdampak pada ketersediaan air minum dan pakan alami bagi satwa.
“Saat dievakuasi, kondisi fisik orangutan jantan ini sangat kurus dengan bobot hanya berkisar 25 hingga 30 kilogram dari ukuran normal,” tutur Ari.
Orangutan jantan tersebut diduga mengalami dehidrasi berat akibat berkurangnya pasokan air minum dan menurunnya kualitas vegetasi hutan di sekitar lokasi. Setelah diamankan, orang utan langsung dibawa ke fasilitas perawatan untuk mendapatkan penanganan medis.

Ilustrasi: Pengasuh bercengkerama dengan individu orang utan (Pongo pygmaeus). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/YU
“Tim dokter hewan dari jaringan CAN langsung memberikan tindakan darurat untuk menstabilkan kondisi fisik serta memulihkan cairan tubuh satwa,” kata Ari.
Pemantauan kesehatan dilakukan secara berkala untuk memastikan kondisi stamina dan metabolisme tubuh orangutan terus membaik. Setelah melewati masa kritis, satwa tersebut dijadwalkan menjalani rehabilitasi lanjutan. Orangutan akan dikembalikan ke habitat aslinya di hutan lepas setelah dinyatakan siap.
“Sinergi cepat ini membuktikan bahwa komitmen bersama mampu memberikan harapan hidup baru bagi kelestarian satwa liar dari ancaman kekeringan,” tegas Ari.
BKSDA Kaltim mengimbau masyarakat dan berbagai pihak melaporkan keberadaan satwa dilindungi. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah potensi konflik serta mendukung upaya pelestarian ekosistem alam.