BKSDA Kaltim memaparkan kemunculan orangutan ke sekitar jalan di Kutai Timur diduga kuat dipicu kondisi musim kemarau yang menyebabkan sejumlah anak sungai di dalam hutan mengering. ANTARA/HO-BKSDA Kaltim.
Kronologis Orang Utan Muncul di Jalur Perlintasan Kutai Timur
Silvana Febiari • 16 September 2026 12:00
Kutai Timur: Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur menjelaskan kronologi kemunculan orang utan (Pongo pygmaeus) di jalur perlintasan perusahaan di Kabupaten Kutai Timur. Kemunculan orang utan tersebut sebelumnya viral di media sosial.
"Upaya pencarian dan penanganan orang utan di jalan produksi (hauling) PT SHJ Kecamatan Muara Bengkal, Kutai Timur, sejatinya telah kami lakukan secara intensif sejak Juli 2026," kata Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto, dilansir dari Antara, Rabu, 16 September 2026.
Tim gabungan BKSDA Kaltim bersama Centre for Orangutan Protection (COP) dan pihak perusahaan telah menerjunkan personel ke lokasi sejak 20 hingga 24 Juli 2026. Petugas sempat menemukan keberadaan primata dilindungi tersebut pada 22 Juli, namun kendala teknis di lapangan menyebabkan satwa kembali masuk ke hutan.
"Pemantauan udara menggunakan drone pada akhir Juli berhasil mendeteksi keberadaan beberapa sarang orang utan di kawasan bernilai konservasi tinggi," ungkap Ari.
Penanganan tahap kedua kembali digencarkan pada 28 hingga 31 Agustus, setelah video kemunculan satwa liar tersebut kembali beredar di media sosial. Tim gabungan melakukan penyisiran ulang dengan mengumpulkan informasi dari para pengguna jalan, serta menyisir kembali jalur perlintasan armada perusahaan.
"Kemunculan satwa ke sekitar jalan diduga kuat dipicu kondisi musim kemarau yang menyebabkan sejumlah anak sungai di dalam hutan mengering," tutur Ari.
Kondisi kekeringan tersebut memaksa orang utan bergerak keluar kawasan hutan guna mencari sumber air minum serta ketersediaan pakan harian.

Ilustrasi: Pengasuh bercengkerama dengan individu orang utan (Pongo pygmaeus). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/YU
Sebagai langkah mitigasi, BKSDA Kaltim telah memasang baliho peringatan serta meminta perusahaan menyediakan tandon air di koridor satwa. "Kami meminta masyarakat dan pengendara yang melintas untuk tidak mendekati, tidak memberi makan, serta tidak mengganggu satwa tersebut," ungkap Ari.
Ia mengimbau pengguna jalan untuk berhati-hati agar tidak terjadi interaksi negatif dan satwa tetap aman dari risiko kecelakaan. Koordinasi dengan pengelola kawasan konsesi juga terus dilakukan untuk memantau ruang gerak alami satwa.
"Menjaga keberadaan satwa liar bukan hanya tentang menyelamatkan mereka, melainkan juga memastikan manusia dan orang utan dapat hidup berdampingan secara damai," tegas Ari.
BKSDA Kaltim berkomitmen untuk terus mengawal pemantauan berkala demi menjaga kelestarian populasi orang utan di Kalimantan Timur.