Orang Utan Liar Muncul di Jalan Poros Sangatta-Rantau Pulung, Warga Diminta Waspada

Kemunculan orangutan yang kerap melintas di jalan poros Sangatta-Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur, Kaltim. ANTARA/HO-M Hafif Nikolas

Orang Utan Liar Muncul di Jalan Poros Sangatta-Rantau Pulung, Warga Diminta Waspada

Whisnu Mardiansyah • 15 September 2026 13:51

Samarinda: Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) mengerahkan tim untuk memantau satu individu orang utan (Pongo pygmaeus) yang dilaporkan berulang kali terlihat di sekitar jalan poros Sangatta-Rantau Pulung, Kabupaten Kutai Timur.

Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto mengatakan petugas telah diterjunkan untuk menelusuri lokasi dan memantau keberadaan satwa liar dilindungi tersebut.

"Kami sudah menurunkan tim untuk memantau keberadaan orangutan yang dilaporkan tersebut," kata Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto di Samarinda, seperti dilansir Antara, Selasa, 15 September 2026.

Laporan mengenai kemunculan orangutan disampaikan warga yang rutin melintasi jalur penghubung antarkecamatan tersebut. Satwa berukuran besar dengan bulu cokelat kemerah-merahan itu terlihat mencari makan di sisi jalan. Orang utan tersebut terpantau mengonsumsi biji-bijian dan pucuk dedaunan yang tumbuh di sekitar lokasi.

"Untuk selanjutnya mengenai penanganan teknis di lapangan akan kami informasikan setelah tim selesai melakukan penyisiran ke lokasi tersebut," kata Ari.
 


Lokasi kemunculan satwa berada tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Kutai (TNK), salah satu habitat alami orang utan di Kalimantan. BKSDA Kaltim meminta masyarakat yang melintas di jalan poros tersebut tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun satwa.

"Kami mengimbau masyarakat yang melintas di jalan poros agar tidak mendekati, mengejar, apalagi memberi makan kepada orangutan tersebut demi keselamatan bersama," tutur Ari.

Seorang warga yang kerap melintasi jalan tersebut, Yuristio, mengaku sudah beberapa kali melihat orangutan di sekitar jalur Sangatta-Rantau Pulung.

“Sudah hampir tiga kali saya lihat ada orangutan di jalan itu. Kadang mereka di pinggir jalan, kadang juga langsung menyeberang,” ucapnya.

Menurut Yuristio, kemunculan orangutan biasanya terlihat pada sore hari menjelang senja. Ukurannya yang cukup besar membuat satwa tersebut terkadang tampak seperti batang kayu ketika berada di tepian jalan.


Proses evakuasi induk dan anak orang utan yang sempat terjebak karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur, Rabu malam (2/9/2026). (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)


Pengendara Diminta Berhati-hati

Aktivitas kendaraan yang melintas di jalur Sangatta-Rantau Pulung menjadi salah satu perhatian dalam pemantauan orang utan tersebut. Kemunculan satwa di badan atau tepian jalan berpotensi mengganggu kelancaran kendaraan sekaligus meningkatkan risiko kecelakaan.

Pengendara yang melihat orangutan melintas biasanya menghentikan kendaraan sementara dan menunggu hingga satwa tersebut menyeberang atau kembali menuju kawasan hutan.

“Biasanya kendaraan itu harus berhenti dulu menunggu orangutan menyeberang jalan atau hewan itu masuk ke dalam hutan,” katanya.

Sejumlah pengendara juga memilih memperlambat atau menghentikan kendaraan ketika melihat orangutan menyeberangi jalan menuju kawasan hutan.

Saat ini, tim gabungan BKSDA Kaltim bersama petugas resor konservasi masih memantau pergerakan satwa tersebut. Petugas juga melakukan penelusuran untuk mengetahui keberadaan sarang orangutan di sekitar lokasi.

Pemantauan dan upaya perlindungan dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga keberlangsungan populasi orangutan Kalimantan di wilayah Kutai Timur.

(Whisnu M)