Iran Tegaskan Bakal Hancurkan Blokade Laut AS di Selat Hormuz jika Negosiasi Buntu

Kapal tanker yang berada di Selat Hormuz. Foto: Press TV

Iran Tegaskan Bakal Hancurkan Blokade Laut AS di Selat Hormuz jika Negosiasi Buntu

Fajar Nugraha • 9 June 2026 12:10

Teheran: Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan bahwa Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi.

Namun, Rezai menegaskan bahwa negaranya tidak akan ragu untuk menghancurkan secara total blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz jika proses perundingan menemui jalan buntu.

Dalam sebuah wawancara bersama jaringan televisi Russia Today, Rezaei menjelaskan bahwa saat ini Iran masih berupaya mengejar target potensialnya melalui meja negosiasi. Kendati demikian, karena aksi blokade laut dinilai sebagai pelanggaran nyata terhadap hak kedaulatan negaranya, Iran menolak keras situasi tersebut dan memastikan akan memecahkan blokade maritim apa pun yang dipasang musuh.

“Pada saat ini, kami mengejar tujuan kami melalui negosiasi. Namun, karena blokade laut merupakan pelanggaran terhadap hak-hak kami, kami tidak menerima situasi ini dan pasti akan menghancurkan blokade laut apa pun,” tegas Rezaei, seperti dikutip Press TV, pada Selasa, 9 Juni 2026.

Mantan Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tersebut menambahkan bahwa pemerintah Iran tidak akan pernah membiarkan hak-hak sah negaranya diinjak-injak oleh pihak asing. Ia menjelaskan bahwa Iran sepenuhnya berkomitmen pada langkah-langkah diplomasi yang serius demi mengamankan hak kedaulatannya.

Meski demikian, Teheran terpantau jauh lebih siap dan teguh untuk mempertahankan wilayahnya dengan kekuatan militer yang luar biasa jika situasi mendesak. Rezaei memberikan pernyataan yang lugas tanpa ada keraguan mengenai kesiapan ganda negaranya tersebut.

"Kami serius tentang negosiasi, tetapi kami bahkan lebih serius tentang membela diri kami sendiri,” kata Rezaei.

Ia menekankan bahwa Republik Islam Iran menargetkan kemenangan di tiga lini sekaligus, yakni melalui jalur diplomasi, di medan pertempuran, serta dalam upaya melindungi kepentingan nasional mereka.

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran tersebut turut menyoroti bagaimana Iran telah berhasil membongkar sifat agresif dan tidak tepercaya dari Amerika Serikat kepada mata dunia selama konfrontasi belakangan ini.

Rezaei mengatakan bahwa dalam proses perundingan, Iran berhasil menunjukkan kepada dunia mengenai wajah asli Amerika beserta prinsip-prinsip nyata yang dijalankannya. Menurutnya, keberhasilan mengekspos wajah asli AS, pelanggaran perjanjian yang berulang, pelanggaran hukum internasional, hingga pengabaian hak asasi manusia oleh Washington sudah merupakan bentuk kemenangan tersendiri bagi pihak Iran.

"Kami ingin menang dalam negosiasi, dalam perang, dan dalam membela diri," tambah mantan komandan IRGC tersebut menegaskan target besarnya.

Ketika koresponden Russia Today mempertanyakan posisi resmi Iran mengenai syarat yang diajukan AS agar Teheran menghentikan pengayaan uranium dan menyerahkan seluruh cadangan uranium yang telah diperkaya, Rezaei memberikan jawaban penolakan yang tegas.

Ia mengatakan bahwa aktivitas pengayaan uranium yang dilakukan Iran selama ini berada dalam koridor komitmen internasional, yakni sesuai dengan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), dan aktivitas tersebut dipastikan akan terus berlanjut di masa depan.

“Kami tidak akan mundur dari hak kami untuk melakukan pengayaan. Pengayaan adalah aset nasional dan teknologi yang saat ini kami gunakan di bidang pertanian, farmasi, dan produksi listrik. Kami ingin menggunakan pengayaan untuk produksi energi, dan kami tidak akan melepaskan hak kami di bidang ini,” jelas Rezaei.

Rezaei menggarisbawahi bahwa terkait status cadangan uranium yang telah diperkaya, otoritas penuh mutlak berada di tangan Republik Islam Iran untuk memutuskannya. Pihaknya memastikan tidak akan menyerahkan material berharga tersebut kepada orang atau entitas mana pun di luar negara, sehingga Iran tidak akan menerima persyaratan apa pun terkait cadangan material nuklirnya.

Mengomentari klaim berulang dari Presiden AS Donald Trump yang mengaku menginginkan kesepakatan damai dengan Iran, Rezaei menyatakan bahwa sebuah perjanjian baru hanya akan mungkin terwujud jika hak-hak rakyat Iran dihormati sepenuhnya di bawah hukum internasional dan Piagam PBB. “Hanya di bawah kondisi seperti itu sebuah kesepakatan dapat dicapai,” ujarnya.

Namun, ia menyatakan rasa skeptis yang mendalam untuk bisa mencapai kesepakatan yang tulus dengan pihak Amerika Serikat, mengingat rekam jejak Trump yang dinilainya tidak konsisten serta tunduk pada kepentingan rezim Zionis.

“Trump tidak menunjukkan keberanian yang diperlukan dalam negosiasi. Terkadang, dia berada di bawah pengaruh opini publik yang dibuat oleh Zionis. Dia mengatakan satu hal kepada kami dan kemudian menariknya kembali. Dia pada dasarnya bukan orang yang ahli bernegosiasi; dia hanya tidak mampu bernegosiasi,” kritik Rezaei secara terbuka.

Pejabat senior Iran tersebut membenarkan bahwa proses dialog tidak langsung saat ini masih terus berjalan melalui bantuan negara mediator, namun ia mengakui masih banyak hambatan besar yang mengganjal, terutama terkait tuntutan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan secara sepihak.

“Amerika harus berbicara dengan jelas. Negosiasi tidak dapat berhasil dengan ambiguitas dan tuntutan yang berlebihan,” ucap Rezaei.

Pada bagian akhir, Rezaei menegaskan kembali kendali mutlak tanpa kompromi yang dipegang oleh militer Iran atas jalur pelayaran Selat Hormuz, dan menyatakan tidak akan ada langkah mundur terkait pengamanan jalur pipa strategis tersebut.

“Pengelolaan Selat Hormuz berada di bawah kendali kami, dan perdagangan melalui Selat Hormuz adalah bebas, asalkan kapal-kapal mematuhi pengaturan transit yang ditetapkan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam,” tegas Rezaei.

Meskipun aktivitas pelayaran komersial tetap dibuka di bawah protokol keamanan ketat dari IRGC, ia memastikan setiap upaya militer yang bersifat bermusuhan untuk memblokade jalur perairan tersebut akan ditolak dan dilawan dengan tegas.

“Perdagangan tetap terbuka, tetapi perlintasan militer mutlak tidak akan diizinkan. Kami menganggap diri kami bertanggung jawab atas keamanan Selat Hormuz dan Teluk Persia. Oleh karena itu, Iran tidak akan pernah melepaskan hak-haknya di Selat Hormuz,” pungkas Rezaei.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)