Sesi panel Inclusive Growth in a Volatile World di Indonesia Economic Summit di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026. (Metrotvnews.com)
Indonesia Dorong Model Pertumbuhan Inklusif di Tengah Ketidakpastian Global
Willy Haryono • 3 February 2026 14:26
Jakarta: Indonesia Economic Summit (IES) 2026 menyoroti pentingnya reformasi struktural dan penguatan kerja sama internasional sebagai kunci mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika global yang semakin volatil.
Dalam sesi panel bertajuk “Inclusive Growth in a Volatile World," para pakar ekonomi dan pemimpin global sepakat bahwa diplomasi ekonomi yang pragmatis serta kemitraan strategis lintas negara menjadi faktor krusial bagi Indonesia untuk menjaga momentum pertumbuhan jangka panjang.
Utusan Khusus Australia untuk Asia Tenggara Nicholas Moore AO menyoroti perubahan paradigma dunia usaha Australia yang kini menempatkan Indonesia sebagai prioritas utama.
“Perdana Menteri kami sangat jelas menyatakan bahwa hubungan internasional terpenting Australia adalah dengan Indonesia. Kami membawa delegasi investasi besar karena melihat potensi dana pensiun institusional senilai 4,5 triliun dolar Australia yang dapat diarahkan ke Indonesia,” ujar Moore.
Sejalan dengan itu, mantan Menteri Perdagangan Internasional Kanada Mary Ng menegaskan bahwa arsitektur perdagangan tidak berhenti pada penandatanganan perjanjian.
“Perjanjian perdagangan hanyalah titik awal. Yang terpenting adalah bagaimana sektor swasta Kanada dan Indonesia dapat berkolaborasi dan berinvestasi secara nyata di berbagai sektor ekonomi,” jelasnya.
Indonesia sebagai Middle Power
Dari sisi regulasi global, Jens Arnold dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menekankan pentingnya proses aksesi Indonesia ke OECD sebagai instrumen reformasi domestik. Menurutnya, penerapan standar global akan membantu menciptakan iklim usaha yang lebih transparan, kompetitif, dan inklusif.Sementara itu, Kepala Ekonom Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) Erik Berglöf menyoroti peran strategis pembangunan infrastruktur berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa investasi pada infrastruktur hijau dan konektivitas regional akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan yang tidak hanya cepat, tetapi juga adil dan tahan terhadap guncangan eksternal.
Ekonom senior Raden Pardede menyatakan bahwa Indonesia perlu terus memainkan perannya sebagai kekuatan menengah (middle power) yang aktif di kancah global.
“Kemitraan global sangat penting, tetapi pada saat yang sama kita harus memperkuat ‘rumah tangga’ domestik agar tetap kompetitif di pasar internasional,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa stabilitas ekonomi makro Indonesia selama ini merupakan modal utama dalam membangun kepercayaan global.
Menutup diskusi, mitra dari Bain & Company Edmund Lin menekankan bahwa dunia usaha perlu mengadopsi pendekatan yang lebih kreatif dan pragmatis di tengah ketidakpastian global. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi unik untuk memimpin ekosistem ekonomi Asia Tenggara, asalkan mampu menjaga momentum reformasi dan inklusivitas pertumbuhan. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: IES 2026: Airlangga Tegaskan Posisi Indonesia sebagai Middle Power Global