Profil Meriyati Hoegeng, Istri Jenderal Hoegeng yang Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun

Istri almarhum Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, Meriyati Hoegeng, dok: istimewa

Profil Meriyati Hoegeng, Istri Jenderal Hoegeng yang Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun

Putri Purnama Sari • 3 February 2026 18:51

Jakarta: Kabar duka datang dari dunia kepolisian Indonesia. Meriyati Roeslani Hoegeng, istri dari tokoh polisi legendaris Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, meninggal dunia pada Selasa, 3 Februari 2026, pukul 13.24 WIB. Perempuan yang akrab disapa Eyang Meri itu berpulang pada usia 100 tahun.

Kepergian Meriyati Hoegeng menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang pendamping setia yang selama hidupnya dikenal menjaga kesederhanaan, keteguhan prinsip, dan integritas, sejalan dengan nilai-nilai yang dipegang teguh sang suami.

Profil Meriyati Hoegeng

Meriyati Hoegeng lahir di Yogyakarta pada 23 Juni 1925. Ia meruakan anak dari pasangan dr. Mas Soemakno Martokoesoemoe dan Jeanne Reyneke van Stuwe.

Kisah pertemuannya dengan Hoegeng Iman Santoso bermula dari dunia seni. Keduanya dipertemukan dalam pementasan sandiwara radio “Saijah dan Adinda” adaptasi dari novel ”Max Havelaar” karya Multatuli.

Dalam pementasan tersebut, Hoegeng memerankan tokoh Saijah, sementara Meriyati berperan sebagai Adinda. Kedekatan yang terjalin selama proses latihan berkembang menjadi hubungan personal yang lebih dalam. 

Dari ruang siaran radio itulah benih cinta tumbuh, hingga akhirnya keduanya menikah pada 31 Oktober 1946 dan dikarunia tiga orang anak yakni Renny Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng dan Sri Pamujining Rahayu.
 

Hidup Bersahaja di Balik Jabatan Tinggi

Meriyati kemudian mendampingi Hoegeng dalam perjalanan panjang kariernya di kepolisian. Hoegeng sendiri tercatat pernah menjabat sebagai Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) pada periode 1968–1971.

Jenderal Hoegeng dikenal sebagai sosok polisi yang jujur, berintegritas tinggi, dan anti-korupsi dalam sejarah kepolisian Indonesia.

Meski berstatus sebagai istri pejabat tinggi negara, Meriyati dikenal menjalani kehidupan yang jauh dari kemewahan. Ia kerap digambarkan sebagai sosok yang rendah hati, bersahaja, dan teguh memegang nilai kejujuran, nilai yang juga menjadi prinsip hidup keluarga Hoegeng.

Kisah Ikonik Toko Bunga dan Integritas

Salah satu cerita paling dikenal dari kehidupan Meriyati Hoegeng adalah kisah toko bunga yang menjadi simbol integritas keluarga Hoegeng. Pada 1960, ketika Hoegeng menjabat sebagai Kepala Jawatan Imigrasi, Meriyati memiliki usaha toko bunga di Pasar Cikini, Jakarta.

Demi menjaga marwah jabatan dan menghindari konflik kepentingan, Hoegeng meminta istrinya menutup usaha tersebut. Ia tidak ingin ada pihak yang membeli bunga dengan harapan mendapatkan kemudahan urusan imigrasi. Tanpa keberatan, Meriyati menutup tokonya, sebuah keputusan yang hingga kini dikenang sebagai contoh nyata integritas pejabat publik dan keluarganya.

Pendamping Setia dalam Suka dan Duka

Nama Meriyati kerap disebut dalam berbagai kisah tentang Hoegeng, terutama saat menyinggung kehidupan keluarga yang bersih dari praktik penyalahgunaan jabatan. Ia bukan hanya saksi, tetapi juga bagian penting dari perjalanan Hoegeng dalam menjaga nilai kejujuran, meski harus mengorbankan kenyamanan hidup.

Sepanjang masa pengabdian Hoegeng di kepolisian, Meriyati selalu memberikan dukungan penuh. Ia menerima dengan lapang dada konsekuensi dari sikap tegas dan lurus sang suami, termasuk saat keluarga harus menjalani kehidupan sederhana setelah Hoegeng tidak lagi menjabat.

Pasangan ini menjalani masa tua dengan menekuni berbagai hobi. Meriyati dan Hoegeng menghabiskan waktu dengan melukis dan bernyanyi. Keduanya bahkan membuka usaha melukis untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga serta membesarkan tiga orang anak mereka. 

Meriyati dan Hoegeng kemudian menetap di Depok hingga Hoegeng wafat pada 2004. Sepanjang hidupnya, Meriyati memilih berada di luar struktur organisasi istri kepolisian dan tidak terlibat dalam kepengurusan organisasi tersebut.
 

Warisan Seabad Kehidupan

Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri menemui Meriyati Hoegeng. Foto: Istimewa.

Menjelang usia seabad, Meriyati Hoegeng sempat mengabadikan perjalanan hidupnya dalam sebuah buku biografi berjudul “Meriyati Hoegeng: 100 Tahun Langkah Setia Pengabdian”. Buku tersebut diluncurkan tepat pada ulang tahunnya yang ke-100, 23 Juni 2025, dan disusun oleh cucunya, Krisnadi Ramajaya Hoegeng.

Peluncuran buku itu dihadiri sejumlah tokoh nasional, di antaranya Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Kehadiran para tokoh tersebut menjadi penegasan bahwa nilai kesederhanaan dan integritas keluarga Hoegeng masih relevan dan dihormati hingga kini.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)