Karhutla Gunung Bromo, BNPB Siapkan Helikopter Water Bombing

Lokasi terdampak kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo/BPBD Kab. Malang.

Karhutla Gunung Bromo, BNPB Siapkan Helikopter Water Bombing

Lukman Diah Sari • 5 August 2026 13:21

Malang: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan helikopter pengebom air atau water bombing untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Pemadaman kebakaran di kawasan TNBTS masih terus berlangsung dan dilaksanakan satuan tugas (satgas) darat.

"Sementara kami akan mendukung dengan dua unit ya," kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto di Kota Malang, Rabu, 5 Agustus 2026, melansir Antara.

Kebakaran di kawasan Gunung Bromo terjadi pada Senin, 3 Agustus 2026, sekitar pukul 17.00 WIB di area Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Kemudian, api menjalar hingga ke wilayah Watu Gede yang terletak di Kabupaten Probolinggo.


Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu (5/8/2026). ANTARA/Ananto Pradana

Dari informasi diterima Suharyanto, lokasi kebakaran memiliki medan yang berat sehingga terbilang sulit dijangkau oleh petugas. Maka dari itu, langkah pemadaman api membutuhkan dukungan helikopter pengebom air.

BNPB mengupayakan unit pemadam api dari udara bisa melakukan penanganan kebakaran di kawasan TNBTS hari ini atau maksimal pada Kamis, 6 Agustus 2026. Sebab, helikopter water bombing saat ini juga digunakan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di daerah lain.

"Ada beberapa jenis, bisa jenis Mi dan bisa Sikorsky, nanti kami lihat yang tersedia, karena BNPB juga sedang melaksanakan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di enam provinsi, yakni Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan," ujar dia.

Ia menyampaikan pengerahan dua helikopter pengebom air dibarengi dengan proses asesmen di lapangan. Berkaca dari kejadian kebakaran di Gunung Bromo pada 2023, kata dia, dua unit helikopter water bombing sudah cukup dan efektif memadamkan kobaran api.

"Kami juga sudah berkoordinasi dengan BMKG terkait kemungkinan operasi modifikasi cuaca, tetapi sampai siang ini masih belum ada pertumbuhan awan hujan, sehingga dalam beberapa hari untuk operasi modifikasi cuaca belum bisa diselenggarakan," ucap Suharyanto.

(Lukman Diah Sari)