Raja Bahrain menganugerahkan Orde Sheikh Isa bin Salman Al-Khalifa kepada Amir Kuwait. (Arab Times)
Terus Digempur, Bahrain dan Kuwait Dilaporkan Lakukan Serangan Balasan ke Iran
Riza Aslam Khaeron • 25 July 2026 18:28
Jakarta: Bahrain dan Kuwait dilaporkan telah secara diam-diam mengerahkan jet tempur untuk melancarkan serangan udara ke sejumlah situs militer di dalam wilayah Iran untuk pertama kalinya. Informasi ini diungkapkan oleh beberapa sumber yang mengetahui isu tersebut kepada The Wall Street Journal (WSJ).
Berdasarkan keterangan sejumlah sumber, serangan udara yang dilancarkan pada awal Juli tersebut menargetkan depot penyimpanan drone dan rudal, di samping beberapa fasilitas militer lainnya.
Uni Emirat Arab (UEA), yang sebelumnya telah berulang kali menyerang wilayah Iran sejak awal konflik, turut memberikan dukungan intelijen mengenai target sasaran sekaligus perlindungan udara defensif, menandakan menguatnya kerja sama militer antarnegara Arab dalam menghadapi gempuran Iran.
Melansir WSJ, selama beberapa pekan terakhir Iran memfokuskan serangan balasannya ke arah Bahrain dan Kuwait.
Kedua negara Teluk Persia tersebut menampung pangkalan militer Amerika Serikat. Kendati kekuatan angkatan udara mereka relatif kecil dan mengandalkan jet tempur buatan AS serta Eropa, Bahrain dan Kuwait dilaporkan enggan membiarkan Teheran terus melancarkan aksi militer tanpa perlawanan.
Namun, menyusul publikasi laporan tersebut, Duta Besar Kuwait untuk AS membantah keterlibatan negaranya dalam aksi militer terhadap Iran.
"Negara Kuwait tidak berpartisipasi dalam operasi militer apa pun terhadap Iran, dan tidak mengizinkan wilayahnya digunakan untuk melancarkan operasi ofensif terhadap negara tetangga mana pun," tegas Duta Besar Al-Zain Al-Sabah.
Negara-Negara Arab Kian Terjepit

Jet F-16 milik Bahrain. (Flight Global)
Menurut WSJ, pemerintah negara-negara Arab kini terjepit di antara perang yang tak pernah mereka inginkan dan tetangga yang kian terus mengancam mereka, yakni Iran.
Secara kolektif, mereka menanggung dampak kerugian paling berat dari rentetan sanksi dan aksi militer Iran sepanjang perang, serta kini dihadapkan pada risiko kebuntuan berkepanjangan yang mengancam stabilitas keamanan maupun perekonomian mereka.
UEA sendiri telah terlibat langsung dalam konflik ini sejak awal, dengan melancarkan puluhan serangan udara ke wilayah Iran hingga sehari setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan pada bulan April lalu, sebagaimana dilaporkan WSJ.
Meski Iran relatif menghindari serangan langsung ke UEA dalam beberapa pekan terakhir, Teheran diketahui sempat menyerang dua kapal tanker minyak milik UEA pada awal bulan ini.
Di antara negara Teluk lainnya, Kuwait dan Bahrain berada dalam posisi yang paling terjepit. Kedua negara dan sekutu terdekat AS di kawasan tersebut memang tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan Iran selama bertahun-tahun, sehingga kerap menjadi sasaran utama dalam eskalasi pertempuran belakangan ini.
Kini, Iran dilaporkan kian meningkatkan gempurannya ke infrastruktur-infrastruktur vital. Pada Minggu, 19 Juli 2026, Kementerian Luar Negeri Kuwait mengonfirmasi bahwa serangan Iran telah mengincar pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air, yang dinilai sebagai ancaman nyata bagi keselamatan warga serta eskalasi yang sangat berbahaya.
| Baca Juga: Bersitegang dengan Houthi, Saudi Keluarkan Peringatan Bahaya di Yanbu dan Jazan |
Sementara itu, negara seperti Oman dan Qatar telah lama menerapkan strategi diplomasi berimbang antara Iran dan pihak Barat, sehingga cenderung tidak berminat melakukan konfrontasi langsung dengan Teheran.
Di sisi lain, Arab Saudi, yang sempat bergabung bersama UEA melakukan serangan ke Iran di fase awal perang, saat ini dilaporkan tengah meninjau ulang dan mengevaluasi kembali posisi politik mereka.
Pada dasarnya, pemerintah negara-negara Arab berharap konflik ini dapat segera usai agar mereka bisa kembali memfokuskan agenda pada pemulihan ekonomi. Namun, perang kini telah menginjak bulan kelima tanpa ada tanda-tanda kompromi atau intensitas pertikaian yang mereda. Ekspor minyak dari kawasan Teluk melumpuh akibat cengkeraman ketat Iran di Selat Hormuz.
Kondisi ini kian diperparah oleh ancaman blokade di Laut Merah serta serangan terhadap jalur pelayaran komersial oleh milisi Houthi asal Yaman yang didukung Iran. Dampaknya, sektor pariwisata di kawasan tersebut kian lesu dan iklim investasi terus mengalami penurunan.