Cuaca panas hingga sore hari terus terjadi di Kabupaten Bulungan dan beberapa wilayah lainnya di Kaltara. Masyarakat diimbau untuk menjaga lingkungan agar tidak terjadi karhutla. (ANTARA/Agus Salam)
BMKG Prediksi Puncak Musim Kering Kaltara Juli-Agustus 2026
Whisnu Mardiansyah • 5 May 2026 17:16
Tarakan: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim kering di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) terjadi pada Juli-Agustus 2026. Sementara itu, cuaca pada Mei diprakirakan cerah namun masih berpotensi menimbulkan hujan.
"Secara umum BMKG memprediksi untuk wilayah Kaltara akan memasuki puncak musim kering pada bulan Juli hingga Agustus 2026," ujar Prakirawan BMKG Tanjung Harapan, Sylvi Yulianti, di Tanjung Selor, seperti dilansir Antara, Selasa, 5 Mei 2026.
Berdasarkan rilis terbaru BMKG per awal Mei 2026, menurut Sylvi, durasi kondisi cuaca cerah dan suhu udara yang terik diprakirakan akan bertahan selama beberapa pekan ke depan, tepatnya hingga pertengahan Mei 2026.
"Di bulan Mei, meskipun siang hari terasa panas, masih ada potensi hujan lokal pada sore dan malam hari di beberapa wilayah di Kaltara," katanya.
Suhu Tertinggi Capai 35,9 Derajat Celsius di Bulungan
Sylvi menyebutkan bahwa pada tanggal 2 hingga 3 Mei 2026 lalu, wilayah Kaltara yang terdampak cuaca ekstrem adalah Kabupaten Bulungan.
"Daerah yang terdampak ekstrem di Kaltara berdasarkan data suhu maksimum, yaitu wilayah Bulungan yang tercatat suhu maksimum tertinggi mencapai 35,9 derajat Celsius pada tanggal 2 hingga 3 Mei 2026," ujarnya.
Terkait cuaca ekstrem ini, Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A. Paliwang, mengimbau seluruh masyarakat Kaltara untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Ilustrasi kekeringan. Foto MGN
"Nari kita menjaga di sekitar kita, terutama yang wilayahnya ada gambut, ada hutan, dan jangan sampai ada kebakaran hutan di tempat kita," ucap Gubernur Zainal A Paliwang.
Gubernur juga meminta masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan menegur apabila melihat warga lain membakar sampah atau lahan yang berpotensi merambat sehingga menimbulkan karhutla.
"Dengan suasana cuaca ekstrem yang cukup panas pada akhir-akhir ini, mari kita jaga daerah kita ini dari bencana kebakaran," kata Zainal.