Hadapi El Nino, Pemkab Purbalingga Siapkan Mitigasi Kekeringan

Ilustrasi freepik

Hadapi El Nino, Pemkab Purbalingga Siapkan Mitigasi Kekeringan

Media Indonesia • 8 April 2026 16:45

Purbalingga: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga, Jawa Tengah, mulai menyiapkan langkah mitigasi, untuk menghadapi musim kemarau 2026, yang ditandai dengan fenomena El Nino Godzilla. Kepala Pelaksana BPBD Purbalingga Revon Haprindiat mengatakan langkah antisipasi dilakukan untuk menekan dampak kemarau panjang.

"Sejumlah persiapan sudah kami lakukan, salah satunya melalui rapat koordinasi bersama PDAM, PMI, dan Baznas guna memastikan ketersediaan suplai air bersih bagi masyarakat,” ujar Revon, Rabu, 8 April 2026.

BPBD tengah menyiapkan surat keputusan (SK) penetapan status kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai landasan percepatan penanganan apabila kondisi darurat terjadi. Untuk memperkuat upaya tersebut, BPBD turut mengajukan tambahan anggaran, serta memastikan kesiapan armada distribusi air bersih.

“Kami telah mengecek kesiapan armada agar dapat segera dikerahkan ketika dibutuhkan,” jelas dia.

Ilustrasi pasokan air bersih. (MI)

Dalam menentukan wilayah prioritas, BPBD mengacu data kejadian kekeringan ekstrem pada kemarau 2023. Saat itu, sebanyak 91 desa atau kelurahan di 16 kecamatan terdampak, dengan total distribusi air bersih mencapai 2.597 tangki atau sekitar 11,6 juta liter selama 108 hari.

“Data ini menjadi acuan kami untuk menentukan wilayah prioritas, terutama daerah yang rutin mengalami krisis air bersih saat kemarau,” ungkap dia.

BPBD juga melakukan pemetaan ulang sumber mata air pascabanjir dan longsor yang terjadi pada akhir Januari 2026. Salah satu sumber yang sempat terdampak, yakni mata air Sikopyah, kini sudah kembali dapat dimanfaatkan oleh masyarakat meski masih dalam tahap perbaikan permanen.

"Untuk sementara sudah bisa digunakan warga, dan saat ini masih dalam proses perbaikan agar lebih optimal,” jelas dia.

Selain ancaman kekeringan, BPBD Purbalingga juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, khususnya di kawasan lereng Gunung Slamet yang rawan terbakar saat musim kemarau. Upaya pencegahan dilakukan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya karhutla serta pentingnya menjaga lingkungan.

“Kami juga menyiapkan kesiapan teknis dan regulasi sebagai langkah antisipasi jika terjadi kebakaran hutan maupun lahan,” jelas dia. (MI/LD)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)