Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat saat melakukan kunjungan kembali ke EIGER Nature baru-baru ini. Dokumentasi/ istimewa.
Keterbukaan dan Kolaborasi Jadi Kunci Pengelolaan Kawasan Berbasis Alam
Deny Irwanto • 5 October 2026 14:26
Bogor: Pengelolaan kawasan berbasis alam dinilai membutuhkan keterbukaan, evaluasi, dan kolaborasi berbagai pihak agar dapat berjalan secara berkelanjutan. Hal tersebut menjadi perhatian Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat saat melakukan kunjungan kembali ke EIGER Nature untuk melihat perkembangan dan tindak lanjut atas sejumlah masukan yang sebelumnya disampaikan.
Dalam kunjungan tersebut, WALHI Jawa Barat berdialog dengan pengelola kawasan sekaligus melihat langsung berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Pertemuan juga melibatkan akademisi, pakar, dan media sebagai bagian dari pertukaran informasi serta pengetahuan mengenai pengelolaan kawasan berbasis alam.
Sejumlah pakar yang hadir antara lain Tukirin Partomihardjo yang memiliki keahlian di bidang botani dan konservasi tumbuhan; Mirza Dikari Kusrini, sebagai pakar konservasi satwa liar; serta Arief Sabdo Yuwono, yang memiliki keahlian dalam pencemaran lingkungan serta pengelolaan sampah dan limbah.
Berdasarkan peninjauan tersebut, WALHI Jawa Barat menyampaikan bahwa berbagai perizinan dan dokumen lingkungan yang diperlukan telah dipenuhi. Proses pengembangan kawasan telah berlangsung sejak 2018 dan dilengkapi sejumlah dokumen utama, antara lain perizinan tata ruang, persetujuan lingkungan, site plan, serta perizinan bangunan.
Direktur Eksekutif Daerah WALHI Jawa Barat, Wahyudin Iwang, mengatakan keterbukaan pengelola dalam menerima masukan, termasuk kritik, menjadi salah satu hal yang dinilai positif.
"Selama ini kami melihat EIGER Nature sebagai salah satu perusahaan yang masih memiliki komitmen. Kami juga melihat bahwa EIGER sangat terbuka untuk menerima saran, masukan, termasuk kritik. Jarang sekali perusahaan yang bisa menempatkan dirinya seperti itu,” kata Wahyudin Iwang dalam keterangan pers dikutip, Senin, 5 Oktober 2026.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat saat melakukan kunjungan kembali ke EIGER Nature baru-baru ini. Dokumentasi/ istimewa.
Menurut Iwang, sikap terbuka tersebut menjadi salah satu alasan WALHI Jawa Barat terus menyampaikan pandangan dan masukan. Kunjungan terbaru dilakukan untuk melihat secara langsung tindak lanjut terhadap sejumlah hal yang sebelumnya menjadi perhatian.
"Kami datang ke sini untuk melihat secara langsung apakah masukan, saran, pandangan, dan kritik yang sebelumnya kami sampaikan telah dijalankan. Kami melihat langsung bahwa hal-hal tersebut telah ditindaklanjuti. Kami juga melihat keterlibatan para pakar dan akademisi yang mempresentasikan berbagai kegiatan yang berlangsung di sini. Saya mengapresiasi itu," jelasnya. Iwang menambahkan keterlibatan akademisi dan berbagai pihak dalam pengelolaan kawasan memiliki nilai penting karena dapat memperluas pertukaran informasi dan pengetahuan.
"Bagi WALHI, informasi itu adalah pengetahuan. Informasi yang baik akan menjadi pengetahuan yang baik juga," ungkapnya.
Meski mengapresiasi perkembangan yang dilihat di lapangan, WALHI Jawa Barat mengingatkan bahwa pengelolaan lingkungan merupakan proses yang membutuhkan konsistensi dalam jangka panjang. Menurut Iwang, pengembangan kawasan masih berada pada tahap awal sehingga komitmen terhadap aspek lingkungan perlu terus dijaga dan diperkuat.
"EIGER Nature ini masih berada di tahap awal dan akan berlangsung dalam jangka panjang. Kalau terus dilakukan dengan serius dan terus melibatkan tim pakar, akademisi, serta NGO, ini bisa menjadi pilot project atau menjadi pembelajaran bagi pengusaha lain yang menjalankan kegiatan berbasis alam," ungkap Iwang.
Ia berharap pengalaman pengelolaan kawasan tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi pelaku usaha lain yang mengembangkan kegiatan berbasis alam. Menurutnya, aspek perlindungan lingkungan perlu tetap menjadi bagian dari proses pengembangan kegiatan usaha.
"Harapannya, EIGER Nature bisa menjadi contoh baik bagi pengusaha lain. Komitmen ini perlu terus dijalankan dan diperkuat, dengan tidak mengesampingkan aspek lingkungan," ujarnya.
Sementara Direktur Utama EIGER Nature, Imanuel Wirajaya, mengatakan keterlibatan berbagai pihak merupakan bagian dari konsep Pentahelix yang diterapkan dalam proses pengelolaan kawasan. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk melakukan evaluasi secara berkelanjutan sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang perlu dipertahankan maupun diperbaiki.
“EIGER Nature dibangun melalui proses kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak. Kami ingin membuka ruang agar masukan dan kritik tidak hanya disampaikan, tetapi juga dapat dilihat kembali secara langsung di lapangan, apa yang sudah dilakukan, apa yang sudah baik untuk dipertahankan, dan apa yang perlu diperbaiki atau ditingkatkan,” beber Imanuel.
Menurutnya keterlibatan berbagai unsur menjadi bagian dari proses untuk terus belajar dan memperkuat komitmen terhadap alam, budaya, masyarakat, serta keberlanjutan kawasan.
“Kami percaya, menjaga alam adalah perjalanan bersama. Dari keterbukaan, kritik, ilmu pengetahuan, dan kolaborasi, kita dapat menciptakan pengalaman di alam yang bermakna bagi manusia sekaligus membawa kebaikan bagi alam dan generasi mendatang,” ujarnya.