Pesawat tempur M-346 F Block 20 buatan perusahaan alutsista Leonardo. Foto: ANTARA/Ho-laman resmi Leonardo.
2 Tahun Prabowo-Gibran, Komitmen Perkuat Alutsista Indonesia
Anggi Tondi Martaon • 7 October 2026 12:59
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah banyak mendatangkan beragam alat utama sistem senjata (alutsista) Tentara Nasional Indonesia (TNI) selama dua tahun memimpin pemerintahan. Pembaruan kekuatan melalui alutsista ini dianggap sebagai langkah besar TNI dalam memodernisasi sistem pertahanan negara.
Sebagian besar alutsista yang datang dalam rentang 2025–2026 merupakan hasil dari transaksi pembelian yang dilakukan Prabowo saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) pada 2019–2024. Seharusnya, rentetan alutsista baru ini dipamerkan dalam defile pada 4 dan 5 Oktober 2026 untuk memperingati HUT ke-81 TNI.
Namun, karena pertimbangan tertentu, TNI mengubah tradisi defile alutsista dalam acara HUT menjadi upacara yang lebih sederhana di lapangan Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 5 Oktober 2026.
Dikutip dari Antara, berikut beragam alutsista milik TNI yang hadir pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
KRI Brawijaya-320 dan Prabu Siliwangi-321
Sebanyak dua kapal fregat ini menjadi alutsista tempur pertama milik TNI AL yang dibeli dari perusahaan Italia.Kapal buatan pabrikan Fincantieri, Italia, ini diserahkan kepada pemerintah Indonesia secara bertahap.
KRI Brawijaya diserahkan kepada TNI AL pada 2 Juli 2025 dan tiba di Indonesia pada September 2025. Sementara itu, KRI Prabu Siliwangi diserahkan pada Desember 2025 dan tiba di Indonesia pada Maret 2026.
Saat ini, kedua kapal perang tersebut bertugas memperkuat pertahanan laut di wilayah Koarmada II, Surabaya.
Baca Juga :
81 Tahun TNI Menjaga Marwah, Merawat Sapta Marga
KRI Belati-622
Kapal perang produksi industri pertahanan (indhan) dalam negeri, PT Tesco Indomaritim, ini secara resmi diserahkan kepada TNI AL pada 24 Oktober 2025.KRI Belati-622 menjadi simbol modernisasi karena kapal cepat rudal (KCR) sepanjang 60 meter ini memiliki satu keunggulan unik dibanding KRI lainnya, yaitu bermesin hibrida (hybrid).
Sistem mesin hibrida tersebut memadukan propulsi water jet dan baling-baling (propeller), yang membuat kapal ini hemat bahan bakar tetapi tetap bertenaga besar.
Saat ini, kapal cepat rudal tersebut bertugas di wilayah Komando Armada (Koarmada) III di Sorong, Papua Barat Daya.
Drone Anka-S
Sebanyak satu unit pesawat nirawak (drone) Anka-S yang dipesan Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI dari Turki telah diterima di Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, pada September 2025 lalu.Drone baru milik TNI AU ini dikerahkan untuk mengawasi wilayah udara dan laut di Natuna.
Airbus A400M Atlas

Pesawat Airbus A-400M/MRTT Alpha 4001 milik TNI Angkatan Udara (AU). Foto: Dok. BPMI Sekretariat Presiden.
Rekor pesawat angkut terbesar milik TNI AU kini dipegang oleh Airbus A400M Atlas. Dua pesawat buatan Airbus yang dibeli Kemhan tersebut tiba dalam dua tahap berbeda.
Kedatangan pertama terjadi pada November 2025. Kemudian, diikuti kedatangan kedua pada Maret 2026.
Pesawat A400M merupakan airlifter besar yang mampu mengangkut beban berat, seperti truk bahan bakar berkapasitas 80 ton hingga ekskavator. Selain itu, pesawat ini dapat membawa 116 personel bersenjata lengkap, atau sembilan palet militer beserta 54 personel secara bersamaan, hingga kendaraan militer seperti patriot launcher dan HEMTT truck.
Tidak hanya itu, A400M juga mampu menjalankan operasi air-to-air refueling atau pengisian bahan bakar di udara. Saat ini, kedua pesawat tersebut telah dikerahkan oleh TNI AU dalam berbagai misi, salah satunya pengiriman logistik untuk korban gempa di Sumatra dan Aceh.
KRI Canopus-936
Kapal selam penyelamat pertama milik TNI AL, KRI Canopus-936, tiba di Indonesia pada 11 Mei 2026. KRI Canopus-936 merupakan hasil kolaborasi galangan kapal asal Jerman, Abeking & Rasmussen (A&R), dengan PT Palindo Marine. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada kapal ini mencapai 60 persen.Kapal ini dilengkapi berbagai teknologi mutakhir, di antaranya Hydrographic Survey Launcher (HSL), Autonomous Underwater Vehicle (AUV), Remotely Operated Vehicle (ROV), Autonomous Surface Vehicle (ASV), serta Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
"Peralatan itu digunakan untuk melakukan survei hidrografi, oseanografi, geofisika, hingga pemetaan secara detail di dasar laut," ujar KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali.
Selain memantau wilayah bawah laut, kapal tersebut difungsikan untuk operasi militer seperti pemetaan jalur kapal selam, deteksi ranjau laut, patroli keamanan, dan dukungan intelijen maritim.
Ali menjelaskan bahwa KRI Canopus-936 juga mampu melaksanakan misi pencarian dan pertolongan (SAR) bawah air, termasuk mendeteksi sinyal darurat serta mencari objek di dasar laut.
Rafale
Pesawat tempur generasi 4,5 buatan Dassault Aviation, Prancis, ini diterima oleh Pemerintah Indonesia pada Januari dan Mei 2026. Pesawat ini memiliki panjang 15,27 meter, rentang sayap 10,90 meter, dan tinggi 5,34 meter.Dengan spesifikasi tersebut, Rafale mampu melesat hingga kecepatan maksimum Mach 1,8 dan mencapai ketinggian terbang hingga 50.000 kaki. Performa tersebut didukung oleh dua mesin Snecma M88 yang masing-masing mampu menghasilkan daya dorong hingga 50 kN (kilonewton) dan 75 kN saat menggunakan afterburner.
Selain itu, pesawat ini mampu membawa muatan senjata hingga seberat 9.500 kilogram yang dapat dipasang pada 14 titik cantelan (hardpoint). Pemerintah Indonesia memesan total 42 unit Rafale, dan hingga saat ini enam unit di antaranya telah tiba di tanah air.
Keenam pesawat tempur Rafale tersebut kini disiagakan di Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.
T-50 i Golden Eagle
Kemhan membeli enam unit pesawat tempur T-50i dari Korea Selatan untuk difungsikan sebagai pesawat latih lanjutan dan operasi tempur. Pengiriman enam unit pesawat T-50i dari Korea Selatan tersebut telah dilaksanakan pada 16 Juli 2026.Sebelumnya, TNI AU telah mengoperasikan pesawat jenis yang sama sebagai armada latih tempur. Pesawat T-50i Golden Eagle yang sudah ada disiagakan di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur.
Dassault Falcon 8X
Pesawat ini berasal dari pabrikan yang sama dengan Rafale, yaitu Dassault Aviation asal Prancis. Pesawat jet bisnis jarak jauh ini memiliki jangkauan terbang maksimal hingga 11.945 kilometer non-stop.Ditenagai tiga mesin Pratt & Whitney Canada PW307D, pesawat berkapasitas 13 hingga 16 penumpang ini mampu terbang dengan kecepatan maksimal Mach 0,90. TNI AU telah menerima empat unit pesawat ini pada Mei 2026.
KRI Sriwijaya
.jpg)
KRI Sriwijaya. Foto: Antara.
Kapal induk eks Angkatan Laut Italia yang kini bernama KRI Sriwijaya-100 ini secara resmi diterima Pemerintah Indonesia pada Kamis, 24 September 2026.
Kapal yang diperoleh melalui skema hibah ini memiliki panjang 180,2 meter, lebar garis air 23,4 meter, dan lebar dek penerbangan 30,4 meter. Sementara itu, panjang dek penerbangannya mencapai 173,8 meter.
Ukuran tersebut cukup untuk menampung belasan helikopter dan pesawat nirawak (drone).
Kapal induk pertama milik Indonesia ini dilengkapi sistem pendorong Combined Gas and Gas (COGAG) dengan empat turbin gas FIAT/GE LM-2500. Keempat turbin tersebut menghasilkan daya sekitar 60.400 kilowatt (hampir 81.000 tenaga kuda) yang terhubung ke dua poros baling-baling fixed-pitch.
Dengan mesin tersebut, kapal mampu mencapai kecepatan maksimum sekitar 30 knot (sekitar 56 km/jam), serta memiliki daya jelajah hingga 7.000 mil laut.
Helikopter Mi-35M
TNI AD menerima dua unit helikopter tempur Mi-35M buatan Rusia pada pertengahan 2026. Kedua helikopter tersebut resmi beroperasi di pangkalan Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad) Semarang sejak awal September 2026.Meskipun dilengkapi berbagai kemampuan tempur dan persenjataan mutakhir, TNI AD mengonfirmasi bahwa armada ini akan lebih banyak difungsikan untuk pengiriman logistik di wilayah Papua.
Ranpur AAV-M35
Korps Marinir TNI AL secara resmi menerima 12 unit kendaraan tempur (ranpur) amfibi baru buatan Amerika Serikat, yaitu varian AAV-7A1 atau AAV-M35, pada Senin, 28 September 2026.Ranpur ini menjadi kendaraan amfibi tercanggih milik Korps Marinir, melengkapi armada LVT-7 buatan Korea Selatan yang telah dioperasikan sebelumnya. Berdasarkan informasi yang dihimpun ANTARA, kendaraan ini mampu menampung 24 personel yang terdiri atas 21 penumpang dan tiga awak (pengemudi, komandan, serta penembak).
Ranpur ini sanggup menerjang gelombang laut kategori Sea State 5 dengan ketinggian ombak 2,5–4 meter. Kode nama M35 sendiri berasal dari penandaan M (Marinir), 3 (jumlah awak), dan 5 (Sea State).
Dibekali roda rantai untuk mobilitas di darat, pantai, maupun laut, AAV-M35 ditenagai mesin Cummins V930 berdaya 525 horsepower. Mesin tersebut memungkinkan kendaraan ini melaju hingga 15 km/jam di air dan 75 km/jam di darat.
Tidak hanya tangguh di medan amfibi, kendaraan lapis baja ini juga dibekali persenjataan berupa senapan mesin kaliber 12,7 mm dan pelontar granat otomatis 40 mm.
Memajukan Industri Pertahanan Dalam Negeri
Meskipun mayoritas alutsista di atas merupakan buatan luar negeri. Namun, bukan berarti pemerintah tidak percaya pada produk lokal.Momentum ini justru dimanfaatkan pemerintah sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas produk dan SDM industri pertahanan (indhan) dalam negeri melalui kerja sama alih teknologi atau transfer of technology (ToT). Kerja sama ini dilakukan ketika pemerintah Indonesia dan produsen alutsista sepakat berkolaborasi dalam pengembangan maupun perawatan unit.
Salah satu yang paling disoroti adalah retrofit atau peremajaan mesin serta teknologi KRI Sriwijaya-100 oleh PT PAL Indonesia dan Fincantieri. PT PAL menyiapkan modernisasi KRI Sriwijaya-100 sebagai langkah memperkuat kemampuan industri pertahanan nasional dalam menangani kapal perang berukuran besar dan berteknologi kompleks.
"Modernisasi kapal menuntut pemahaman yang utuh terhadap kondisi aktual platform, karakteristik sistem yang sudah terpasang, serta kebutuhan operasional pengguna. Karena itu, prosesnya harus dimulai dari assessment yang komprehensif," kata Direktur Utama PT PAL Indonesia Kaharuddin Djenod.
Dalam kerja sama tersebut, PT PAL berkontribusi di bidang pembangunan, perbaikan, pemeliharaan, perawatan, overhaul kapal, serta modernisasi berbagai sistem. Sementara itu, Fincantieri membekali kepakaran (know-how) sebagai perancang dan pembangun asli kapal tersebut.
Kaharuddin mengatakan bahwa proyek ini dapat menjadi sarana peningkatan kapabilitas, pengetahuan, lapangan kerja, dan ekosistem industri pertahanan nasional. Sebab, melibatkan penguasaan teknologi kapal perang berukuran besar.
Hal senada disampaikan Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Pertahanan Kemhan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait. Dia menjelaskan bahwa Kemhan sengaja melibatkan indhan dalam negeri dalam memodernisasi kapal induk ini.
"Ini diharapkan dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kemampuan dan keterlibatan industri pertahanan maritim nasional," kata Rico.
Rico menilai kerja sama ini tidak hanya memperkuat TNI AL sebagai pengguna alutsista, tetapi juga menciptakan kemandirian industri pertahanan Indonesia. Dengan indhan yang lebih mandiri, kapasitas produksi akan meningkat sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Dampak inilah yang secara langsung memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.
Kendati demikian, ia menyadari dampak positif tersebut tidak bisa langsung dirasakan dalam waktu dekat. Peningkatan kualitas indhan melalui skema kerja sama membutuhkan waktu yang tidak singkat dan harus dilakukan secara bertahap.
Oleh karena itu, ia berharap seluruh indhan dalam negeri dapat konsisten meningkatkan kualitas produk dan SDM melalui berbagai kerja sama demi terciptanya ekosistem bisnis pertahanan yang kuat dan sehat.