Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. MI/Ebet
Podium MI: Negara Peradaban
Abdul Kohar • 19 October 2026 08:47
ADA penyakit lama yang kadang-kadang menjangkiti bangsa ini, yakni merasa kecil di hadapan bangsa lain. Kita gampang terpesona oleh kehebatan peradaban asing, tetapi kerap lupa bahwa tanah yang kita pijak menyimpan sejarah kebudayaan yang tidak kalah panjang, tidak kalah kaya, bahkan dalam beberapa hal lebih tua daripada peradaban yang selama ini kita kagumi.
Karena itulah, gagasan Menteri Kebudayaan Fadli Zon untuk mendeklarasikan Indonesia sebagai civilization state, negara peradaban, patut disambut dengan kepala tegak. "Jangan minder," kata Pak Menteri dalam Kuliah Umum Kebudayaan yang digelar Media Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Perlindungan Budaya dan Tradisi Kemenbud, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Apalagi, dengan sinisme seolah-olah kita sedang mengarang kebesaran masa lalu demi menutupi kekurangan masa kini. Tentu, deklarasi tidak otomatis menjadikan sebuah bangsa beradab. Namun, menyadari kebesaran akar peradaban sendiri merupakan langkah penting untuk menentukan arah masa depan. Bangsa yang tidak mengenali asal usulnya mudah sekali menjadi pengekor. Bahkan, pengekor yang bangga karena merasa berhasil meniru.
Indonesia punya alasan kuat untuk tidak menjadi bangsa pengekor. Bukti-buktinya bukan dongeng pengantar tidur. Penelitian yang dipublikasikan jurnal Nature pada Januari 2026 mengungkap seni cadas berupa cap tangan di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, berusia sedikitnya 67.800 tahun. Sebelumnya, lukisan naratif di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan, dipastikan berusia sedikitnya 51.200 tahun.
Bayangkan! Ketika piramida Mesir belum terpikirkan, ketika peradaban Yunani dan Romawi belum lahir, manusia di wilayah yang sekarang bernama Indonesia sudah meninggalkan jejak ekspresi simbolis. Mereka bukan sekadar mencari makan, kemudian tidur, lalu bangun untuk mencari makan lagi. Mereka berkesenian, berimajinasi, menyampaikan pesan melalui gambar. Mereka mempunyai kehidupan budaya.
Memang, usia lukisan purba tidak serta-merta membuktikan keberadaan negara atau peradaban politik yang berkesinambungan sejak puluhan ribu tahun silam. Namun, temuan tersebut menunjukkan betapa panjang sejarah kebudayaan manusia di Nusantara.
Jejak itu kemudian berkembang dalam berbagai bentuk. Ada tradisi megalitik, kemampuan pelayaran, jaringan perdagangan antarpulau, kerajaan-kerajaan besar, hingga pencapaian arsitektur dan kesusastraan yang mengagumkan.
Pawai Budaya Nusantara di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Metrotvnews.com/Arini
Borobudur dan Prambanan bukan bangunan yang tiba-tiba jatuh dari langit. Keduanya lahir dari pengetahuan, keterampilan, organisasi sosial, dan imajinasi kebudayaan yang matang.
Sriwijaya pernah menjadi simpul penting perdagangan dan pembelajaran agama Buddha. Majapahit meninggalkan warisan politik dan kebudayaan yang pengaruhnya melampaui batas wilayahnya.
Belum lagi tradisi maritim Bugis-Makassar, sistem subak Bali, adat Minangkabau, hingga ribuan bahasa dan ekspresi budaya yang hidup dalam masyarakat kita.
Semua itu membuktikan bahwa Indonesia bukan ruang kosong yang baru mengenal peradaban setelah kedatangan bangsa asing.
Masalahnya, kita terlalu lama memandang sejarah melalui kacamata orang lain. Kita hafal filsuf Yunani, tetapi kurang mengenal pemikir Nusantara. Kita mengagumi bangunan Eropa, tetapi sering membiarkan situs sejarah sendiri rusak dan telantar.
Lucunya, kita baru merasa bangga setelah orang asing datang meneliti, kemudian mengumumkan bahwa peninggalan nenek moyang kita ternyata luar biasa. Seolah-olah kebesaran sejarah memerlukan stempel luar negeri sebelum layak kita percayai.
Karena itu, gagasan negara peradaban jangan berhenti sebagai slogan kebanggaan. Ia mesti diterjemahkan menjadi politik kebudayaan yang serius dengan memperkuat riset arkeologi, melindungi situs sejarah, menghidupkan museum, memajukan bahasa daerah, serta menjadikan kebudayaan kekuatan pendidikan dan diplomasi.
Lebih penting lagi, kebesaran peradaban masa lalu harus tecermin pada perilaku bangsa hari ini. Apa gunanya mengaku ahli waris peradaban agung jika korupsi merajalela, perbedaan dipertentangkan, dan warisan budaya dibiarkan hancur?
Negara peradaban bukan sekadar negara yang memiliki masa lalu gemilang. Ia harus sanggup melahirkan masa depan yang bermartabat.
Kita tidak perlu mengeklaim diri sebagai bangsa paling tua, paling hebat, apalagi paling unggul. Kebanggaan yang sehat tidak membutuhkan sikap merendahkan bangsa lain.
Cukuplah kita menyatakan dengan percaya diri bahwa Indonesia merupakan salah satu rumah tua kebudayaan manusia, dengan warisan yang berlapis, beragam, dan menakjubkan.
Jadi, mengapa mesti minder? Kalau nenek moyang kita sudah mampu menggambar di dinding gua puluhan ribu tahun silam, sungguh keterlaluan apabila keturunannya hari ini bahkan tidak berani menuliskan kebesaran sejarahnya sendiri.